Saturday, March 24, 2012

EKSTRAK ( Sari – Sari )

1. Pengertian

Ekstrak adalah sediaan kering , kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok . Diluar pengaruh cahaya matahari langsung ..( Farmakope Indonesia edisi ketiga 1979)
Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi sat aktif dari simplisisa nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai , kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan . ( Farmakope Indonesia Edisi ke 1V 1995 Dep Kes RI ).
Ekstak cair adalah sedian cair simplisia nabati , yang mengandung etanol sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet . Jika tidak dinyatakanlain pada masing – masing monografi , tiap ml ekstrak mengandung bahan aktif dari 1 gr simplisia yang memenuhi syarat .Karena sifat konsenterasinya , banyak ekstrak encer dipandang terlalu poten ( keras ) untuk digunakan dalam keadaan tunggal oleh pasien secara aman . Juga banyak ekstrak cair rasanya terlalu pahit atau tidak enak bagi pasien . Sehingga kebanyakan ekstrak cair saat ini dimodifikasi dengan menambahkan bahan atau zat penambah rasa enak atau pemanis dan ada juga yang digunakan dalam farasi sebagai komponen sumber obat untuk bentuk sediaan cair lainnya seperti sirup .

2. Cara Pembuatan

Sebagian besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi . Seluruh perkolat biasanya dipekatkan dengan cara destilasi dengan pengurangan tekanan agar bahan utama obat sesedikit mungkin terkena panas .
Ekstraksi , dibuat dengan memperkolasi atau memaserasi bahan bakal itu dengan suatu zat pelarut yang tepat atau dapat pula dengan menuangi bahan bakal itu dengan air didih dalam beberapa hal , dipakai suatu campuran dari dua buah cara – cara itu . Disini dapat dicatat :
1. Bahwa dengan maserasi , sebegitu jauh diartikan agar berlainan dari pada pembuatan tinktur , bahwa setelah menyerkai dan mengempa , sisa kempaan dimaserasi sekali lagi , supaya bahan bakal itu tak tersari sempurna .
2. Bahwa pada perkolasi pun , bahan bakal itu diperkolasi sampai tersari sempurna : tetapi in diminta dengna tegas dan pada tinktur yang dibuat dengan perkolasi , tidak diminta , meskipun dalam hal ini bahan bakal mudah disari sempurna ;
3. Bahwa pada menuangi bahan bakal dengan air didih , penyerkaian dan pengepaan , pengolahan dengan maksud yang sama harus dilakukan berulang – ualng :
4. Bahwa sari – sari dengan air harus segera dihangatkan sampai 90 , untuk memecah protein yang turut melarut . Kemudian serkaian harus dipekatkan pada setinggi – tingginya 80 – 90 , sampai bobot bahan bakal yang dipakai setelah didiamkan 24 jam dan diseraki , maka harus diuapkan sampai konsistensi yang tepat .

Cara pembuatan manapun yang dipakai, pemekatan cairan – cairan harus dilakukan dalam fakum untuk menghindarkan penguraian zat sedapat – dapatnya .
“ Zat – pelarut yang cocok “ yang disebutkan diatas , pertama – tama ialah cairan – cairan etanol dan air : tetapi pada pembuatan extractum Filicis , Rhizoma Filicis diperkolasi dengan eter.
Pembagian extracta yang terbaik, ialah menurut konsistensinya :
A. Sari – sari kental ( extracta spissa ) . Dengan mengecualikan Extractum Filicis dan Extractum Cannabis indieae , dimana Farmakope tak menyebutkan kadar airnya , dengan suatu sari kental diartikan , suatu sari denagn kadar air diantara 20 – 25 % : hanya pada Extractum Liquiritiae diizinkan kadar air yang besarnya sampai 35 % . Pada sari – sari kental , yang terpisah ialah :
1. Extractum Filicis yang telah disebutkan , yang dibuat dengan perkolasi dengan eter , setelah itu eter dihilangkan sama sekali dengan penyulingan : mungkin sari ini tak mengandung jumlah yang berarti .
Farmakope mengatakan dengan tegas , bahwa sebelum dipakai Extractum Filicis harus diaduk dahulu .
2. Extarctum Cannabis indicae , yang dibuat dengan etanol 90 % dan mungkn tidak mengandung jumlah air yang berarti . Jika sari ini pada waktu pengolahan harus dilarutkan , maka untuk itu kita harus memakai etanol 90 % .
Sari – sari kental lainnya , dapt difgolongkan dengan jelas dalam dua golongan :
a. Sari – sari kental , yang dibuat dengan etanol 70 % dan dimurnikan dengna air :
Extractum Belladonae ;
Extractum Hyoscyami ;
Ectractum Visci albi ;
Setelah dari kumpulan cairan – cairan sari itu etanolnya tersuling, kita encerkan dengan air , dimana diendapkan zat hijau daun dan malam – malam dan lain – lain , dimana diendapkan zat hijau daun dan ma;am – malam dan lain – lain ; setelah disaring kita pekatkan sampai konsistensi yang tepat .
Dengan memurnikannya dengan air , kita memperoleh sari yang larut dalam air .
Dengan mermurnikannya dengan air , kita memperoleh sari yang larut jernih dalam air .
b. sari – sari kental , yang dibuat dengan air :
Extractum Belladonnae aquosum . { Codex } , yang dibuat dari herba
Belladonnae recens;
Extractum Cardui benedicti;
Extractum Gentianae;
Extractum Liquiritiae;
Extractum Taraxaci;
Extractum Trifolii fibrini;
Yang adak berlainan , ialah pembuatan :
Extractum Secalis cornuti , yang karena mudah busuknya bahan bakal , dibuat dengan air – chloroform ; setelah cairan – sari diuapkan samapai ½ kali bobot bahan bakal , maka sari yang pekat itu dimirnikan dengan etanol 90 %.
Extractum Valerianae , diman sebetulnya berlaku suatu pembuatan campuran . Mula – mula radix valerianaedimaserasi dengan etanol 70 % dan sisa yang diperoleh, disari dua kali dengan air didih . Cairan – cairan etanol dan iar itu diuapkan terpisah sampai sekental sirop , kemudian dicampurkan dan diuapkan sampai suatu sari kental .
B. Sari – sari kering ( Extracta sicca ) ;Berhubung dengan pengolahannya dalam ilmu resep , sebaiknya kita bagi dalam :
1. Sari – asri kering , yang dibuat dengan suatu cairan etanol dan karena itu tidak larut seluruhnya dalam air .
Extractum Calumba ;
Extarctum Chinae ;
Extractum Colocyathidis; ( biji –bijinya buang dahulu )
Extractum Granati;
Extractum Rhei;
Extractum Strychni ( biji – biji itu bebaskan dulu dari lemak – lemak dengan eter – minyak tanah )
C. Sari – sari cair ( Extracta liiquida atau fluida ) : Kita selalu membuat sari cair sebanyak itu , seperti kitamemakai bahan bakalnya ; karena itulah kita dapat mengatakan , bahwa suatu sari cairan adalah bahan bakal yang telah dibuat menjadi cairan . Jadi takaran – takaran maksimum dari bahan bakal dan sari cair , adalah sama .

Untuk pembuatan sari – sari cair ada dua cara :
a. Dengan perkolasi dengan suatu cairan etanol , kita membuat dahulu hasil perkolasi yang banhyaknya 80 % dari bobot bahan bakal yang dipakai ; bagian ini kita pisahkan . Kemudian kita memperkolasi bahan bakal sampai tersari sempurna dan pekatkan dan pekatkan hingga 20 % dari bobot bahan bakal yang dipakai .
Setelah kedua bagian itu dicampurkan , mak harus dibiarkan selama satu bulan , sebelum kita menyaringnya .
b. Suatu cara yang lebih baik , untuk membuat sari – sari cair ialah cara perkolasi berulang dimana dihindarkan penghangatan apapun juga , sehingga cara ini terutama tepat , untuk pembuatan sari – sari yang atsiri . Tetapi , ini hendaknya selalu diutamakan , karena penghangatan bahan – bahan bakal dan sediaan – sediaan yang terbuat dari padanya , sebaiknya dihindarkan . Pada cara – perkolasi – berulang , bahan bakal dibagikan dalam beberapa porsi – porsi dan dan porsi pertama diperkolasi dengan cairan yang dibutuhkan , sampai tersari sempurna . Hasil perkolasi ditampung dalam beberapa porsi – porsi yang makin lama makn kecil konsenterasinya , dimana bagian yang pertama kita pisahkan sebagai bagian dari sari cair itu. Porsi – porsi berikutnya , dipakai berturut – turut menurut konsenterasi yang menurun , untuk pembuatan pendahuluan bagian kedua dari bahn bakal untuk perkolasinya : tiap bagian bahan bakal , akhirnya harus disari sempurna dengan cairan penyari yang baru . Pada setiap porsi bahan bakal , maka bagian pertama dari hasil perkolasi dipakai sebagai sari cairnya , sedangkan pada porsi terakhir , dipakai hasil perkolasi sebanyak itu , seperti yang dibutuhkan untuk memperoleh jumlah sari cair yang tepat .
Didalam Farmakope , tercantum sari sari cair berkut :
Extractum Cola liquidum;
Extractum Condurango liquidum ;
Extractum RhamniPurshianae liquidum ;
Extractum Viburni prunifolii liquidum ;
Pada extractum hydrastis liquidium dan Extractum Secalis cornuti liquidum bahan bakalnya dicampur dengan asam tartat 0,25 % supaya pada waktu perkolasi asam alkaloida – alkaloidanya lebih mudah melarut .
Pada extractum Chinae liquidum , bahan bakalnya disari dengan campuran dari air , asam klorida encer dan gliserol ; kumpulan hasil – hasil perkolasi diuapkan sampai 90 % dari bobot bahan bakal yang dipakai , setelah itu akhirnay ditambahkan etanol 90 % sebanayk 10 % dari bobot bahn bkalnya .
Extractum hepatis liquidum , dibuat dengan cara yang sama sekali berlainan ; hati yang segar dengan air dan asam klorida encer sedikit , kemudian cairan ini setelah dihangatkan pada 80  , diserkai dan dipekatkan , dimurnikan dengan suatu jumlah yang besar etanol 96 5. Kemudian diuapkan sampai volume yang kecil dan diendapkan dengan suatu jumlah yang besar Etanol 96 % ; endapannya dilarutkan dalam air dan larutan ini diaromatiser dan diawetkan dengan spiritus cinnamomi . Dengan cara ini kita membuat dari 10 kg hati yang segar , 1500ml Extractum Hepatis liquidum.
Jika dapat , maka sari – sari yang dibuat dari bahan- bahan bakal berkhasiat keras , dibakukan pada kadar yang tertentu ; Extractum Opii , Extractum Belladonnae , Extractum Hyoscyami, Extractum Hydrstis liquidum , Extractum Strychni. Padza beberapa sari berkhasiat keras , belum mempunyai kadar penetapan yang cocok , sehingga sampai sekarang sari – sari ini tak mungkin dibakukan : Extractus Cannabis indicae, Extractum Colocyntidis, Extractum Filicis , Extractum Secalis cornuti.

DAFTAR PUSTAKA

Ansel , C Howard . 1989. Bentuk Sediaan Farmasi. UI- Press : Jakarta
Duin , C F Van . 1954.Ilmu resep dalam praktek dan teori. Soeroengan ; Jakarta
Farmakope Indonesia edisi ketiga tahun 1979 .Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Farmakope Indonesia edisi keempat tahun 1995 . Departemen Kesehatan Republik Indonesia .


Read more »

SIKLUS SEL

Sel adalah unsur terkecil yang menyusun suatu organisme. Dalam perjalanan hidupnya, sel tidaklah statis, namun ia senantiasa melakukan kegiatan memperbayak diri Dalam konteks perkembangbiakan pembelahan sel bertujuan agar reproduksi dan embriyogenesis dapat berkelanjutan. Sel induk gamet (gametogonium) harus terlebih dahulu berploriferasi, setelah itu gametosit mengalami pembelahan reduksi. Bila pembuahan terjadi, maka embriogenesis terjadi, yang pada prinsipnya berlangsung dengan cara perbanyakan sati sel zygote menjadi ribuan sampai milyaran sel.
Peristiwa tersebut selalu terulang dalam perjalanan hidupnya dan membentuk sebuah siklus yang dinamakan Siklus Sel. Pertumbuhan dan perkembangan setiap organisme hidup sangatlah bergantung pada pertumbuhan dan perbanyakan sel itu sendiri. Hal yang demikian dikenal dengan istilah pembelahan.
1. Interfase, terdiri dari fase G1, fase S, dan fase G2
  • Pada fase G1 (Gap 1), sel secara metabolit sangat aktif. Semua komponen sel disintesis dan sel tumbuh dengan cepat. Sel yang tidak membelah pada umumnya tetap berada pada fase G1 disepanjang rentang kehidupannya.
  • Pada fase S (sintesis), sintesis protein berlanjut dan DNA serta protein kromosom (histon) direplikasi. Setiap kromosom kemudian berisi dua double helix DNA identik yang disebut kromatid, menyatu pada sentromer.
  • Fase G2 (Gap 2), merupakan periode penting dalam metabolisme dan pertumbuhan sel sebelum mitosis. Prosesnya:
  1. Kromosom belum menebal dan masih dalam bentuk benang panjang
  2. Sentriol membelah dan spindel mitosis dihasilkan dari serat mikrotubulu sel, mulai terbentuk untuk persiapan pembelahan nuklear selanjutnya.
2. Mitosis, terdiri dari penebalan dan pembelahan kromosom serta sitokinesis, pembelahan aktual sitoplasma untuk membentuk 2 sel anak. Meskipun pembelahan merupakan proses yang berkelanjutan, pembelahan dibagi menjadi 4 subfase:
a. Profase
  1. Kromosom menebal menjadi pilinan yang kuat dan besar, serta menjadi terlihat. Setiap kromosom berisi dua kromatid yang disatukan oleh sentromer. Kromatid akan menjadi kromosom dalam generasi sel berikutnya.
  2. Pasangan sentriol berpisah dan mulai bergrak ke sisi nukleus yang berlawanan, digerakkan dengan perpanjangan mikrotubulus yang terbentuk diantara sentriol. Setelah sampai di sisi nukleus, sentriol membentuk benang spindel mitosos polar.
  3. Nukleolus melebur dan membran nuklear menghilang sehinnga memungkinkan spindel memasuki nukleus. Mikrotublus pendek yang muncul dari kinetokor, struktur pada sentromer, sekarang dapat berinteraksi dengan benang spindel polar, menyebabkan kromosom bergerak dengan cepat.
  4. Mikrotubulus lain menyebar keluar sentriol untuk membentuk aster.

b. Metafase
  1. Kromosom atau pasangan kromatid berbaris pada bidang metafase atau bidang ekuator sel, disebut demikian karena posisinya bersilangan dari satu sisi sel ke sisi lainnya pada spindel.
  2. Sentromer pada semua kromosom saling berikatan.
  3. Kinetokor memisah dan kromatidbergrak menjauh.
c. Anafase
  1. Akibat perubahan panjang mirotubulus ditempat perlekatannya, pasangan kromatid (sekarang dianggap sebagai satu kromosom) bergerak dari bidang ekuator ke setiap kutub.
  2. Akhir anafase ditandai dengan adanya dua set kromosom lengkap yang berkumpul pada kedua kutub sel. Organel sitoplasma yang sebelumnya telah bereplikasi, juga tersebar merata di kedua kutub.
d. Telofase
  1. Dua nuklei kembali terbentuk di sekitar kromosom. Kromosom kemudian terurai dan melebur. Membran nuklear dan nukleolus terbentuk kembali.
  2. Sitokinesis adalah pembelahan sitoplasma. Alur pembelahan yang berada tepat dipertengahan antara kedua masa kromosom, mulai membelah sitoplasma berlanjut di sekitar sel dan membelah sel tersebut menjadi dua sel terpisah.

3. Meiosis adalah pembelahan sel yang terjadi dalam pembentukan sel-sel kelamin (sel telur dan sel sperma). Pembelahan tersebut mengurangi jumlah kromosom menjadi jumlah haploid (n). Saat pembuahan, gabungan dari sel telur dan sel sperma menghasilkan jumlah kromosom diploid (2n).
Meiosis terdiri dari dua pembelahan nuklear dan selular, disebut meiosis I dam meiosis II, yang menghasilkan empat sel. Selama interfase sebelum pembelahan meiosis pertama, setiap kromosom bereplikasi untuk membentuk kromatid di ikat sentromer , sama seperti mitosis.
1. Meiosis I, memisahkan setiap pasangan kromosom homolog dan membagi anggota pasangan tersebut pada sel-sel anak.
a. Profase I
  1. Sinapsis terjadi saat kromosom belum menebal, yaitu kedua kromatid dari setiap kromosom masih mencari kedua kromatid pasangan homolognya dan kemudian mengambil tempat yang bersisian di sepanjang kromosom.
  2. Kromosom induk atau kedua kromatid pada setiap kromosom yang diwariskan dari ibu, bergabung dengan kromosom ayah, atau kromatid pasangan kromosom homolog yang diwariskan dari ayah. Semua gen korespondennya juga bergabung. Gabungan empat krmatid disebut tetrad.
  3. Selama sinapsis, keempat benang kromosom homolog saling melilit atau saling bersilangan. Pemecahan dan penyatuan kembali DNA terjadi dalam benang kromosom dan materi genetik dipertukarkan antara kromosom ayah dan ibu.
  • Pertukaran silang dan pertukaran balasan fragmen DNA terjadi secara acak. Ada sekitar 10 fragmen dalam setiap tetrad manusia.
  • Hasilnya adalah perubahan susunan atau pengaturan ulang genetik yang memberikan variasi dan keunikan genetik pada setiap individu.
b. Metafase I
  1. Pasangan kromosom homolog, masing – masing ada dua pasang kromatid yang disatukan sentromer, berbaris pada bidang ekuator.
  2. Kedua kromatid dalam satu kromosom pada setiap pasangan homolog menghadap kekutub sel yang sama, sehingga kromosom homolognya menghadap kutub yang berlawanan.
  3. Benang – benang sepindel dari salahsatu kutub melekat pada sentromer setiap kromosom.
  4. Sentromer tidak membelah seperti yang terjadi pada metafase I pembelahan mitosis.
c. Anafase I
  1. Setiap kromosom ( terdiri dari dua kromatid) ditarik ke salah satu kutub.
  2. Dengan demikian, satu kelompok kromosom haploid (23) telah tersusun disetiap kutub.
d. Telofase I
  1. Seperti dalam pembelahan mitosis, telofase membalik pristiwa yang terjadi dalam profase. Kromosom melebur, membran nuklear kembali terbentuk, nukleolus kembali muncul dan sepindel terurai.
  2. Sitokinesis terjadi dan kedua sel terpisah.
e. Interfase Meosis berlangsung singkat. Tidak terjadi replikasi DNA.

2. Meiosis II serupa dengan mitosis.
a. Peristiwa dalam dalam profase II sama dengan pristiwa pada profase mitosis.
  1. Sentriol memisah dan bergerak kekutub yang berlawanan.
  2. Mikrotubulus dari setiap sentromer melekat pada benang dari sentrior dikutub yang berlawanan.
b. Metafase II
  1. Kromatid berbaris pada bidang ekuator sel.
  2. Kromatid tersusun berpasangan, bukan dalam bentuk tetrad seperti metafase I disebut dyad.
c. Anafase II
  1. Sentromer membelah dan kromatid yang terpisah menjadi kromosom.
  2. Kromatid yang terpisah pada anafase II bukanlah kromatid berpasangan. Berlawanan dengan kromatid pada pembelahan mitosis, kromatid tersebut tidak identik akaibat parsilangan atau kombinasi ulang.
d. Telofase II
  1. Memberan nuklear terbentukkembali, kromosom melebur dan terjadi sitokinesis.
  2. Setiap sel baru berisi satu dari setiap jenis kromosom. Jumlah kromosom adalah haploid.
  3. Hasil dan pentingnya pembelahan meiosis
a. Empat sel, masing – masing mengandung satu kromatid dari tetrad asli pada profase I, dihasilkan dari satu sel induk.
i. Pada laki – laki, keempat sel tersebut adalah spermatozoa.
ii. Pada perempuan, satu sel adalah ovum, sedang ketiga sel lainnya adalah badan polar non-fungsional.
b. Setiap sel mengandung setengah jumlah kromosom, seperempat jumlah DNA normal yang diproduksi pada tahap interfase G2, dan penyimpangan genetik yang unik.

Read more »

Ginjal, Fungsi Ginjal, dan Katabolisme Polipeptida

Ginjal merupakan organ yang berbentuk seperti kacang, terletak retroperitoneal, di kedua sisi kolumna vertebralis daerah lumbal. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dibandingkan dengan ginjal kiri karena tertekan ke bawah oleh hati. Kutub atasnya terletak setinggi kosta 12, sedangkan kutub atas ginjal kiri terletak setinggi kosta 11. Setiap ginjal terdiri dari 600.000 nefron. Nefron terdiri atas glomerulus dengan sebuah kapiler yang berfungsi sebagai filter. Penyaringan terjadi di dalam sel-sel epitelial yang menghubungkan setiap glomerulus.

Gambar 1. Letak ginjal


Ginjal merupakan organ terpenting dari tubuh manusia maka dari itu ginjal mempunyai beberapa fungsi seperti : mengatur keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit dan asam basa dengan cara menyaring darah yang melalui ginjal, reabsorpsi selektif air, elektrolit dan non elektrolit, serta mengekskresikan kelebihannya sebagai kemih. Ginjal juga mengeluarkan sampah metabolisme (seperti urea, kreatinin, dan asam urat) dan zat kimia asing. Akhirnya selain regulasi dan ekskresi, ginjal juga mensekresi renin yang penting untuk mengatur tekanan darah, juga bentuk aktif vitamin D yaitu penting untuk mengatur kalsium, serta eritropoeitin yang penting untuk sintesis darah.

Kedua ureter merupakan saluran yang panjangnya 25 sampai 30 cm, yang berjalan dari ginjal sampai kandung kemih. Fungsi satu-satunya adalah menyalurkan kemih ke kandung kemih. Kandung kemih adalah salah satu kantong berotot yang dapat mengempis dan berdilatasi, terletak di belakang simpisis pubis. Kandung kemih memiliki 3 muara antara lain dua muara ureter dan satu muara uretra. Dua fungsi kandung kemih adalah sebagai tempat penyimpanan kemih dan mendorong kemih keluar dari tubuh melalui uretra. Uretra adalah saluran kecil yang dapat mengembang, yang berjalan dari kandung kemih sampai keluar tubuh. Panjangnya pada wanita sekitar 4 cm dan pada pria sekitar 20 cm.




Pengaruh Hormon Steroid Adrenokorteks
Mineralokortikoid yang berasal dari kelenjar adrenal seperti aldosteron akan meningkatkan reabsorpsi Na+ tubulus yang berkaitan dengan sekresi K+ dan H+ dan juga reabsorpsi Na+ bersama-sama dengan Cl-. Bila hormon-hormon ini disuntikkan ke hewan yang telah mengalami adrenalektomi, akan didapat masa laten 10-30 menit sebelum pengaruhnya pada reabsorpsi Na+ menjadi nyata, karena diperlukan beberapa saat untuk mengubah sintesis protein melalui hormon tersebut terhadap DNA. Mineralkortikoid juga mungkin mempunyai pengaruh cepat yang diperantarai membrane. Tetapi pengaruh ini tidak jelas dalam arti ekskresi Na+ pada binatang percobaan yang utuh. Mineral okortikoid ini terutama bekerja pada duktus koligentes didaerah korteks.
Pada sindrom Liddle, terjadi mutasi gen yang mengode sub unit ß, dan kadang-kadang sub unit γ ENaC, yang menyebabkannnya menjadi lebih aktif di ginjal. Keadaan ini menimbulkan retensi Na+ dan hipertensi.
Ketika memasuki suatu sel epitel tubulus, aldosteron bergabung dengan suatu protein reseptor; dalam beberapa menit gabungan ini berdifusi kedalam nucleus, tempat ia menggiatkan molekul DNA untuk membentuk satu jenis atau lebih messenger RNA. Dianggap bahwa RNA tersebut kemudian menyebabkan pembentukan protein pengangkut atau enzim protein yang perlu untuk proses transport natrium dan kalium.

Efek Hormon Antidiuretik pada Kecepatan Ekskresi Volume Cairan
Bila hormon antidiuretik berlebihan disekresikan oleh sistem hipotalamikus-hipofisis posterior, sekresi ini menyebabkan suatu efek akut untuk menurunkan pengeluaran volume urine. Alasannya bahwa hormon antidiuretik menyebabkan peningkatan reabsorpsi dari duktus koligens dan mungkin pula sedikit peningkatan reabsorpsi dalam bagian akhir tubulus distalis. Oleh karena itu, makin sedikit vlume urine yang dieksresikan; sebaliknya urine yang diekskresikan tersebut sangat pekat. Tetapi, bila hormone antidiuretik berlebihan disekresikan untuk jangka waktu lama, efek akut penurunan produksi urine tidak berlangsung terus.
Mekanisme peningkatan reabsorsi air oleh hormone antidiuretik. Mekanisme tepat hormone antidiuretik meningkatkan reabsorpsi air oleh tubulus koligens tidak diketahui. Meskipun demikian, beberapa fakta yang telah ditetapkan mengenai mekanisme tersebut adalah sebagai berikut: Perangsangan sel epitel oleh tubulus koligens oleh hormone antidiuretik menggiatkan enzim adenil siklase di dalam membrane sel epitel pada sisi peritubular sel ini, dan ini menyebabkan pembentukan adenosin monofosfat siklik (AMP siklik) di dalam sitoplasma sel. Peningkatan AMP siklik tersebut kemudian disertai untuk alasan yang belum diketahui dengan sangat meningkatnya permeabilitas membrane lumen sel epitel terhadap air, ini sebaliknya bertanggung jawab untuk peningkatan reabsorpsi air oleh tubulus koligens.

Pengaruh hormone antidiuretik terhadap kadar urea
Bila konsentrasi hormone antidiuretik tinggi didalam darah, maka sejumlah besar urea akan diabsorbir kedalam cairan medulla dari duktus koligens medulla dalam. Alas an untuk ini; bila ada hormone antidiuretik, maka duktus koligen dibagian dalam medulla menjadi permeable secara moderat bagi urea. Akibatnya, konsentrasi urea dalam cairan interstisial medulla meningkat sehinga hamper sama dengan konsentrasi didalam duktus koligen. Pada manusia, selama stimulasi hormone antidiuretik yang maksimum, ini bias sampai setinggi 400-500 mOsm. Per liter, yang jelas sangat meningkatkan osmolalitas cairan interstisial bagian dalam medulla. Mekanisme pemekatan solute ini bertanggung jawab bagi hiperosmolalitas.

Ringkasan Pengaturan Ekskresi Volume Cairan
Beberapa faktor-faktor menyebabkan perubahan akut luar biasa dalam produksi urine. Misalnya penurunan akut volume urine yang disebabkan oleh hormone antidiuretik atau peningkatan akut produksi urine yang disebabkan oleh peningkatan muatan osmotik tubulus. Meskipun demikian, dalam periode waktu lebih lama yang terpenting adalah peningkatan dalam pengeluaran yang disebabkan oleh peningkatan tekanan arteri, suatu efek yang kelihatannya disokong secara tak terbatas.

Syndrome Sekresi Antidiuretik yang tidak tepat
Jenis-jenis tumor tertentu, terutama tumor bronkogenik paru atau tumor daerah basal otak, sering menghasilkan hormone antidiuretik atau hrmon yang serupa. Keadaan ini disebut sindroma sekresi antidiuretik yang tidak tepat. ADH atau hormone antidiuretik berlebihan biasannya hanya menyebabkan sedikit peningkatan volume cairan ekstra sel, malahan efek utamanya menurunkan konsentrasi natrium cairan ekstra sel secara ekstrim. Mula-mula produksi urine turun dan volume darah meningkat. Mekanisme dasar untuk pengaturan volume darah semakin giat dan menimbulkan peningkatan tekanan arteri yang justru meningkatkan produksi urin. Selanjutnya urin yang diekskresikan sangat pekat karena kecenderungan ginjal untuk menahan air.


DAFTAR PUSTAKA
Ganong, William F. 1999. Fisiologi Kedokteran Edisi 17. Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur C. 1976. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta : EGC
http://www.emedicine.com/polipeptida hormon.html.
http://www.google.co.id/katabolisme polipeptida hormon.html.
http://www.wikipedia.com/polipeptida hormon.html
Read more »

 
Powered by Blogger