Sunday, May 22, 2011

HERVES SIMPLEX VIRUS

A. Karakteristik

Virus herpes simpleks adalah virus DNA, dan seperti virus DNA yang lain mempunyai karakteristik melakukan replikasi didalam inti sel dan membentuk intranuclear inclusion body. Intranuclear inclusion body yang matang perlu dibedakan dari sitomegalovirus. Karakteristik dari lesi adalah adanya central intranuclear inclusion body eosinofilik yang ireguler yang dibatasi oleh fragmen perifer dari kromatin pada tepi membran inti.

Berdasarkan perbedaan imunologi dan klinis, virus herpes simpleks dapat dibedakan menjadi dua tipe yaitu :

  1. Virus herpes simpleks tipe 1 yang menyebabkan infeksi herpes non genital, biasanya pada daerah mulut, meskipun kadang-kadang dapat menyerang daerah genital. Infeksi virus ini biasanya terjadi saat anak-anak dan sebagian besar seropositif telah didapat pada waktu umur 7 tahun..
  2. Virus herpes simpleks tipe 2 hampir secara eksklusif hanya ditemukan pada traktus genitalis dan sebagian besar ditularkan lewat kontak seksual.

Virus herpes simpleks
(KLASIFIKASI)

Kelas: Kelas I (dsDNA)

Famili: Herpesviridae

Famili: Alphaherpesvirinae

Genus: Simplexvirus

Species:Virus Herpes simplex (HSV-1) dan (HSV-2)

Virus herpes simpleks 1 dan 2 (HSV-1 dan HSV-2) adalah dua virus dari famili herpesvirus, Herpesviridae, yang menyebabkan infeksi pada manusia. HSV-1 dan 2 juga merujuk pada virus herpes manusia 1 dan 2 (HHV-1 dan HHV-2). Setelah infeksi, HSV menjadi tersembunyi, selama virus ada pada sel tubuh saraf. Selama reaktivasi, virus diproduksi di sel dan dikirim melalui sel saraf akson menuju kulit. Kemampuan HSV untuk menjadi tersembunyi menyebabkan infeksi herpes kronik’ setelah beberapa infeksi terjadi, gejala herpes secara periodik muncul di dekat tempat infeksi awal.

B. TANDA DAN GEJALA

Ciri-ciri Herpes Simplex adalah adanya bintil-bintil kecil, bisa satu atau sekumpulan, yang berisi cairan, dan jika pecah bisa menyebabkan peradangan. Bintil-bintil ini biasanya muncul di daerah muco-cutaneous, atau daerah dimana kulit bertemu dengan lapisan membrane mukosa. Di wajah, daerah ini berlokasi di pertemuan bibir dengan kulit wajah. Para penderita herpes simplex biasanya merasakan adanya perasaan geli di daerah tersebut sebelum munculnya bintil-bintil tadi. Penyakit ini bisa menular selama bintil-bintil tersebut berisi cairan karena di cairan itulah virus herpes berada. Jika Anda bagian tubuh Anda berkontak dengan daerah berbintil-bintil, maka virus herpes dapat menulari Anda pada daerah kontak tersebut. Infeksi virus biasanya muncul seminggu setelah terjadinya kontak. Tetapi jika kontak dilakukan pada saat bintil-bintil tersebut telah mengering atau bahkan sembuh, maka bisa dibilang resiko tertular pun hilang.

Sebagian besar gambaran luas ‘lesi’ herpes di atas juga berlaku untuk herpes kambuhan juga. Lesi dapat berbentuk seperti:

  • benjolan merah,
  • jerawat,
  • bulu yang menumbuh ke dalam,
  • wasir, atau
  • gigitan serangga

Untuk banyak orang, lesi herpes begitu ringan sehingga disalahtafsirkan sebagai:

  • gigitan serangga,
  • luka lecet,
  • infeksi ragi,
  • gatal-gatal, atau
  • masalah lain.

Dengan kata lain, tanda itu tidak diketahui disebabkan oleh herpes kelamin. Juga tanda dan gejala dapat ditemukan:

  • pada penis dan vulva,
  • dekat dubur,
  • di bokong, atau
  • di sekitar daerah kelamin


C. CARRIER

Carrier virus herpes simpleks artinya pembawa dari virus tersebut. Herpes dapat menyebar bila ada gejala NO. A Carrier Herpes (dikenal sebagai Asimtomatik Herpes) masih dapat menularkan virus kepada pasangannya.

Herpes adalah PMS yang disebabkan oleh virus dan bukan bakteri. Penyebab herpes adalah Herpes Simplex Virus ( HSV). Penyebab herpes adalah Herpes Simplex Virus ( HSV). Ada dua jenis HSV: Tipe [yang] aku Dan Tipe II. Di (dalam) masa lampau yang terbaru, [itu] telah dipikirkan bahwa HSV jenis ini yang berbeda menyebabkan jenis beda permasalahan. Pada masa Lalu, Diperkirakan bahwa berbagai jenis HSV tipe yang berbeda menyebabkan masalah. Jenis [yang] aku adalah pikir untuk menyebabkan sariawan pada [atas] mulut dan bibir, [selagi/sedang] Jenis II telah dihubungkan dengan genital herpes ( pembentukan [amat sangat/ sakit] di sekitar penis atau liang peranakan). Tipe [yang] aku dianggap menyebabkan luka dingin di mulut dan bibir, sedangkan Tipe II dikaitkan dengan herpes genital ( luka membentuk sekitar penis atau liang peranakan). Lebih baru-baru ini, bagaimanapun, kedua-duanya jenis HSV telah ditunjukkan untuk;menjadi mampu untuk menyebabkan genital herpes. Baru-Baru Ini, Bagaimanapun, Baik jenis HSV telah terbukti mampu menyebabkan herpes genital. Jenis II HSV kasus [tuju/ cenderung] untuk mempunyai gejala lebih buruk dan perjangkitan [yang] lebih sering dibanding Jenis [yang] aku HSV kasus. Kasus HSV tipe II cenderung memiliki gejala-gejala buruk dan wabah yang sering Lebih dari Tipe [yang] aku HSV kasus. Kebanyakan kasus genital herpes adalah Jenis II. Besar Sebagian kasus herpes genital Adalah Tipe II.

Efek status virus herpes carrier pada T subset limfosit darah perifer dalam 334 orang yang sehat. Antibodi kelas IgG terhadap sitomegalovirus (CMV), virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes simpleks (HSV), dan virus varicella-zoster (VZV) digunakan sebagai penanda untuk status pembawa virus tersebut. CMV status carrier dikaitkan dengan peningkatan yang signifikan dalam jumlah beberapa subset sel T, sedangkan status pembawa EBV, HSV, dan VZV tidak memiliki efek yang signifikan. 159 orang CMV-seropositif memiliki jumlah yang lebih sel HNK1 + T daripada 175 orang CMV-seronegatif [mean (SD), 292 (196) / v microL 164 (89) / microL, masing], termasuk CD4 + HNK1 + T sel [38 (48) / v microL 9 (13) / microL, masing-masing] dan CD8 + HNK1 + T sel [166 (146) / v microL 73 (54) / microL, masing-masing]. Morfologi dan studi cytochemical menunjukkan bahwa ekspresi HNK1 oleh CD4 + dan CD8 + T sel dikaitkan dengan terjadinya butiran cytoplasmatic azurophilic dan hilangnya aktivitas esterase spesifik. Jumlah CD4 + HNK1 + dan CD8 + HNK1 + T sel meningkat secara proporsional ke tingkat dari titer CMV IgG-kelas antibodi. Kami menyarankan bahwa peningkatan jumlah CD4 + HNK1 + dan CD8 + HNK1 + granular T sel dalam pembawa CMV mencerminkan interaksi terus-menerus antara CMV dan sistem kekebalan tubuh host nya.

D. TREATMENT (Pengobatan)

Keputusan tentang apakah akan menerapkan terapi antivirus atau tidak harus mempertimbangkan kriteria sebagai berikut:

1. Jenis dan kondisi fisik dari binatang yang terlibat.

Hanya monyet monyet keluarga berfungsi sebagai reservoir alami untuk infeksi virus B. Tidak ada primata lain membawa resiko penularan virus B kecuali mereka memiliki kesempatan untuk menjadi terinfeksi oleh kera yang. kera yang terinfeksi tidak akan biasanya akan shedding virus B. Hewan dengan lesi yang konsisten dengan infeksi virus B (lepuhan berisi cairan pada kulit) dan hewan yang immunocompromised atau stres jauh lebih mungkin akan mengeluarkan virus.

2. Ketelitian dan ketepatan waktu prosedur pembersihan luka.

Luka yang telah dibersihkan dalam waktu 5 menit pemaparan dan yang telah dibersihkan selama minimal 15 menit penuh kecil kemungkinannya untuk menimbulkan infeksi virus B. Keterlambatan pembersihan atau pembersihan tidak memadai dari luka akan meningkatkan risiko infeksi.

3. Sifat luka.

Gigitan atau goresan yang menembus kulit, dan luka tusukan khususnya dalam, dianggap risiko yang lebih tinggi daripada luka yang dangkal dan dengan demikian lebih mudah dibersihkan. Luka ke leher, kepala, atau badan menyediakan akses berpotensi cepat ke SSP dan dengan demikian harus dipertimbangkan risiko yang lebih tinggi. Profilaksis direkomendasikan untuk jenis luka terlepas dari beratnya. luka Superficial ke ekstremitas cenderung menyebabkan penyakit fatal, dan pengobatan antivirus dianggap kurang mendesak di eksposur tersebut.

4. Paparan materi yang telah datang ke dalam kontak dengan kera.

Terkadang jarum suntik yang telah datang ke dalam kontak dengan SSP, kelopak mata, atau mukosa dari kera dianggap membawa resiko tinggi infeksi. Tusukan dari jarum terkena darah perifer dari kera yang dianggap relatif berisiko rendah. Goresan yang dihasilkan dari kontak dengan benda-benda yang mungkin terkontaminasi, seperti kandang hewan, dianggap membawa resiko yang lebih rendah untuk infeksi.

Pemilihan obat anti virus / obat anti viral topikal pada infeksi virus tertentu

Anti virus atau anti viral secara topikal digunakan sebagai pengobatan untuk infeksi virus pada kulit atau membran mukosa. Anti virus topikal bertujuan untuk membantu terapi agar lebih efektif.

Acyclovir

Sejak tahun 1980an mulai digunakan pengobatan antivirus untuk infeksi herpes dengan acyclovir. Acyclovir terkonsentrasi pada sel yang terinfeksi virus herpes simpleks dan tidak terkonsentrasi dalam sel yang tidak terinfeksi. Obat ini bersifat penghambat kompetitif terhadap polimerase DNA virus dan merusak rantai DNA. Mekanisme ini dapat menghambat pembentukan DNA virus dan mempunyai keamanan yang tinggi dengan selektivitas terhadap sel yang terinfeksi.

Acyclovir dapat digunakan dalam beberapa bentuk preparat antara lain krim untuk topikal, powder untuk intravena, kapsul oral dan suspensi oral. Preparat topikal digunakan dengan dioleskan pada daerah terinfeksi setiap 3 jam, 6 kali perhari, selama 7 hari. Acyclovir intravena diberikan pada kasus yang berat dengan dosis 5 mg/ kg setiap 8 jam selama 5 hari.

Kapsul oral acyclovir diindikasikan untuk 3 keadaan yaitu : Pengobatan infeksi primer, pengobatan infeksi ulang yang berat dan penekanan rekurensi yang sering dan berat. Dosis pemberian acyclovir oral adalah 200 mg, 5 kali perhari selama 10 hari.

Sampai saat ini belum ditemukan vaksinasi yang efektif untuk infeksi virus herpes simpleks, meskipun pada model binatang didapatkan vaksin yang efektif untuk mencegah infeksi dan untuk mengurangi pembentukan fase laten di ganglion saraf.

Penggunaan obat lain :

• Vidarabin

• Idoksuridin topical (untuk Herpes Simpleks pada selaput bening mata)

• Trifluridin


Artikel Terkait:
Siklus Hidup Herves simplex Virus

Read more »

Transduksi Sinyal Perekayasaan Protein

1.1 Perkembangan Bioteknologi Dewasa Ini

Masyarakat umum mungkin memahami "protein" sebatas zat makanan yang tercakup dalam 4 sehat 5 sempurna. Hal itu tidak salah, namun dewasa ini, dengan perkembangan bioteknologi, protein telah menjadi salah satu material hayati (biomaterial) yang sangat menjanjikan untuk berbagai aplikasi. Misalnya, sabun cuci saat ini telah lazim menggunakan enzim, protein yang berfungsi katalis, sehingga dapat menurunkan kadar detergen yang berpotensi merusak lingkungan. Beberapa obat-obatan, seperti obat kanker, juga telah menggunakan antibody berupa protein yang mengenali benda asing dalam tubuh, sebagai ganti dari senyawa kimia buatan yang memunculkan banyak efek samping.


1.2 Rekayasa Protein pada tiga jenis enzim berstruktur Beta-Propeller : GDH-A, GDH-B dan Sialidase.

Penelitian kali ini berkenaan dengan Rekayasa Protein terhadap protein-protein yang memiliki struktur Beta-Propeller dan protein-protein yang memiliki fungsi Sinyal Transduksi. Keduanya untuk tujuan aplikasi Kedokteran. Untuk bagian yang pertama, dilakukan Rekayasa Protein terhadap tiga jenis enzim yang memiliki struktur Beta-Propeller (Gambar 1), masing-masing membrane-bound type PQQ glucose dehydrogenase (GDH-A), soluble-type PQQ glucose dehydrogenase (GDH-B) dan sialidase. GDH-A dan GDH-B ini memiliki prospek yang menjanjikan untuk dipakai dalam biosensor pengukur kadar glukosa dalam darah penderita diabetes.


Gambar 1 : Struktur protein Beta-Propeller. Diberi nama demikian karena tersusun dari struktur sekunder Beta-sheet yang membentuk struktur mirip propeller atau baling-baling.


1.3 Capaian Riset

a. Melipatgandakan Produk GDHs Sejuta Kali Lipat

Tanggung jawab yang utama adalah menyangkut produksi massal dengan teknologi rekombinan DNA serta analisa biofisika dan bioinformatika struktur. Menggunakan berbagai variasi metoda dan material, berhasil didapatkan enzim GDHs dalam jumlah besar (skala miligram) sementara normalnya hanya nanogram (jadi sejuta kali lipat) secara kuantitas dan bila dilihat secara kualitas dibanding cara yang konvensional, ada peningkatan setidaknya

10 kali lipat dalam aktivitasnya.

b. Mengembangkan Metoda Prediksi Protein dengan Teknik CD Spectroscopy

Di samping itu, berhasil dikembangkan metoda pendugaan/ prediksi struktur protein ini melalui teknik spektroskopi bernama CD spectroscopy. Dengan membangun database protein berstruktur serupa, melalui analisa komputer, dapat dipisahkan elemen masing-masing struktur. Dipadu dengan kekuatan tool-tool bioinformatika, dengan akurasi tinggi bisa diperoleh struktur prediksi protein bersangkutan. Metoda ini memang tidak menjelaskan secara detail/ terperinci sampai level atom struktur protein seperti bila menggunakan metoda X-ray crystallography atau NMR, tapi bisa diperoleh arsitek global "wajah" protein tersebut secara cepat dan tetap akurat yang penting untuk tahapan Rekayasa Protein selanjutnya.

c. Pembuatan Mutan GDHs yang lebih stabil

Selain itu, ada juga pembuatan mutan-mutan GDHs yang hasilnya kita bisa dapatkan enzim mutan yang lebih stabil, lebih kuat dalam ikatan kofaktornya, lebih tinggi spesifikasinya dan sangat sesuai dengan syarat-syarat aplikasi biosensor glukosa. Berkatnya, tim kami diajak bekerjasama dengan perusahaan biosensor utama di Amerika, LifeScan untuk mensuplai enzim ini buat devais biosensor glukosa masa depan mereka.


Gambar 2: Biosensor glukosa produk Lifescan. Hanya dengan setetes darah, kadar glukosa dalam darah dapat diketahui.


1.4 Riset terhadap Sialidase

a. Fokus Riset : Proses Transduksi Sinyal dalam Sel

Selain GDHs, juga dilakukan riset terhadap sialidase. Enzim ini, seperti juga GDHs, berasal dari bakteri, namun juga ditemukan di virus seperti virus influenza. Sialidase dari virus influenza telah dijadikan target obat flu yang sudah dipasarkan saat ini dengan nama produk Relenza. Di sini sialidase dijadikan sebagai model untuk desain protein. Stabilitas strukturnya dicoba dirubah tanpa mengganggu karakter lain. Dari berbagai seri mutasi, didapatkan enzim seperti itu dan hal ini membuktikan bahwa protein berstuktur Beta-Propeller ini sangat potensial sebagai model desain protein. Dalam bagian kedua dari riset itu, ditaruh perhatian pada proses transduksi sinyal dalam sel. Sinyal-sinyal dari luar sel, baik yang bersifat kimiawi maupun fisik (panas, dll) dihantarkan ke dalam sel melalui sebuah proses yang disebut transduksi sinyal (Gambar 3). Proses ini dijalankan banyak protein dalam sebuah mekanisme yang mirip " pesan berantai " yaitu protein 1 menjadi aktif karena sinyal dari luar sehingga bisa menyampaikan ke protein 2. Akibatnya protein 2 jadi aktif dan meneruskannya lagi ke protein 3, demikian dan seterusnya. Kanker terjadi antara lain ketika salah satu protein itu menjadi tak terkontrol. Bagaimana mekanisme penghantaran sinyal di dalam sel itu, adalah fokus penelitiannya. Jadi dicoba dikembangkan metoda deteksi kapan protein dalam rantai transduksi sinyal ini "on" atau "off". Untuk itu digunakan peptida karena molekul ini kecil sehingga bisa masuk ke dalam sel hidup, alamiah serta mudah dan murah dibuat.


Gambar 3 : Sinyal Transduksi dalam sel. Sinyal dari luar sel dihantarkan ke dalam sel sampai inti sel melalui "pesan berantai" antara protein terkait.




Read more »

Monday, May 16, 2011

Eliksir

Adalah cairan jernih, rasanya manis, larutan hidroalkohol digunakan untuk pemakaian oral, umumnya mengandung flavuoring agent untuk meningkatkan rasa enak. Eliksir bersifat hidroalkohol, maka dapat menjaga stabilitas obat baik yang larut dalam air maupun alkohol.
Eliksir adalah larutan hidroalkohol yang jernih dan manis dimaksudkan untuk penggunaan vital, dan biasanya diberi rasa untuk menambah kelezatan. Eliksir bukan obat yang digunakan sebagai pembawa tetapi eliksir obat untuk efek terapi dari senyawa obat yang dikandungnya. Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung kadar gula yang lebih rendah dan akibatnya kurang efektif dibanding sirup dalam menutupi rasa senyawa obat. Walaupun demikian, karena sifat hidroalkohol, eliksir lebih mampu mempertahankan komponen-komponen larutan yang larut dalam air dan yang larut dalam alkohol daripada sirup. Juga karena stabilitasnya yang khusus dan kemudahan dalam pembuatannya (dengan melarutkan biasa), dari sudut pembuatan eliksir lebih disukai daripada sirup.
Perbandingan alkohol yang ada pada eliksir sangat berbeda karena masing-masing komponen eliksir mempunyai sifat kelarutan dalam alkohol dan air yang berbeda. Tiap eliksir memerlukan campuran tertentu dari alkohol dan air untuk mempertahankan semua komponen dalam larutan. Tentu saja, untuk eliksir-eliksir ini mengandung zat yang kelarutannya dalam air jelek, banyaknya alkohol yang dibutuhkan lebih besar daripada eliksir yang dibuat dari komponen-komponen yang kelarutannya dalam air baik. Disamping alkohol dan air, pelarut-pelarut lain seperti gliserin dan propilen glikol, sering digunakan dalam eliksir sebagai pelarut pembantu.
Walau banyak eliksir yang dimaniskan dengan sukrosa atau sirup sukrosa, beberapa menggunakan sorbitol, gliserin dan/atau pemanis buatan seperti sakarin untuk tujuan ini. Eliksir yang mempunyai kadar alkohol yang tinggi biasanya menggunakan pemanis buatan seperti sakarin, yang dibutuhkan hanya dalam jumlah kecil, daripada sukrosa yang hanya sedikit larut dalam alkohol dan membutuhkan jumlah yang lebih besar untuk kemanisan yang sama.
Semua eliksir mengandung bahan pemberi rasa untuk menambah kelezatan dan hampir semua eliksir mempunyai zat pewarna untuk meningkatkan penampilannya. Eliksir yang mengandung alkohol lebih dari 10-12%, biasanya bersifat sebagai pengawet sendiri dan tidak membutuhkan penambahan zat antimikroba untuk pengawetannya.
Walau monograf untuk eliksir obat menetapkan standar-standar, mereka umumnya tidak menetapkan formula resmi. Formulasi diserahkan pada masing-masing pabrik. Contoh formulasi beberapa eliksir obat adalah sebagai berikut:

Phenobarbital Elixir
Phenobarbital, USP 4,00 g
Orange oil, NF 0,25 ml
Propylene Glycol, NF 100,00 ml
Alcohol, USP 200,00 ml
Sorbitol Solution, USP 600,00 ml
Pewarna q.s.
Purified Water, USP, untuk membuat 1000,00 ml

Theophylline Elixir
Theophylline, USP 5,3 g
Citris Acid, USP 10,0 g
Liquid Glucose, NF 44,0 g
Syrup, NF 132,0 ml
Glycerin, USP 50,0 ml
Sorbitol Solution, USP 324,0 ml
Alcohol, USP 200,0 ml
Sodium Saccharin, USP 5,0 g
Lemon Oil, NF 0,5 g
FDC Yellow No. 5 0,1 g
Purified Water, USP, untuk membuat 1000,0 ml

Eliksir obat diformulasi sedemikian rupa sehingga pasien menerima obat dengan dosis lazim untuk dewasa dalam ukuran eliksir yang tepat. Untuk sebagian terbesar eliksir, satu atau dua sendok teh penuh (5 atau 10 ml) pemberian obat dengan dosis lazim dewasa. Satu keuntungan eliksir lebih dari obat yang dalam bentuk pemberian padat adalah kemudahan penyesuaian dan kemudahan pemberian dosis, terutama pada anak-anak. Orang tua dapat memberi setengah sendok teh penuh obat, sebagai contoh, untuk anak yang memperoleh kemudahan yang lebih besar daripada yang didapat dengan memecah tablet obat yang sama atau memisahkan dan dibagi dalam kapsul obat. Pada keadaan dimana eliksir obat dimaksudkan untuk anak-anak, wadah diperdagangkan sering mengandung alat pengukur yang telah dikalibrasi, seperti tetesan atau sendok, untuk memudahkan orang tua mengukur obat dengan tepat dengan jumlah yang dianjurkan sesuai umur anak, berat, atau kondisinya.
Karena eliksir mengandung alkohol dan biasanya juga mengandung beberapa minyak mudah menguap yang rusak oleh adanya udara dan sinar, maka paling baik disimpan dalam wadah-wadah yang tertutup rapat, tahan cahaya untuk menjaga terhadap temperatur yang berlebihan.
Dibandingkan dengan sirup, eliksir biasanya kurang manis dan kurang kental karena mengandung gula lebih sedikit maka kurang efektif dibanding dengan sirup di dalam menutupi rasa obat yang kurang menyenangkan. Eliksir mudah dibuat larutan, maka lebih disukai dibanding sirup.

Daftar Pustaka
Ansel, H.C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. UI Press. Indonesia
Read more »

Pembuatan Salep/Krim

Baik dalam ukuran besar maupun kecil, salep dibuat dengan dua metode umum yaitu pencampuran dan peleburan. Metode untuk pembuatan tertentu terutama tergantung pada sifat-sifat bahannya (Anief, 1997).
Pada metode pencampuran, komponen dari salep dicampur bersama-sama dengan segala cara sampai sediaan yang rata tercapai. Pada skala kecil seperti resep yang dibuat tanpa persiapan, ahli farmasi dapat mencampur komponen-komponen dari salep dalam limping dengan sebuah alu atau dapat juga menggunakan sudip dan lempeng salep untuk menggerus bahan bersama-sama. Beberapa lempeng salep dari gelas adalah gelas penggiling supaya dapat lebih hancur pada proses penggerusan. Beberapa ahli farmasi memanfaatkan kertas perkamen yang tidak mengabsorbsi yang cukup besar untuk menutupi permukaan tempat kerja dan memiliki kelebihan dalam pembuatan sampah, mengurangi tambahan waktu pekerjaan membersihkan lempeng salep tersebut (Anief, 1997).
Pencampuran bahan padat. Pada pembuatan salep dengan menggunakan spatula, biasanya ahli farmasi mengerjakan salep dengan spatula logam tahan karat dengan belahan yang panjang dan lebar, serta secara periodic memindahkan kumpulan dari salep ke atas spatula yang lebih besar dengan spatula kecil. Salep yang dibuat dengan cara menggerus/menggosokkanya serta meratakan dan mengumpulkan komponen-komponennya pada permukaan yang kasar dengan spatula sampai hasilnya lembut dan rata. Pada umumnya dasar salep ditempatkan disebelah atas dari permukaan tempat kerja, komponen serbuk dihaluskan lebih dahulu dan supaya dapat digerus secara merata dalam lumping. Lalu sebagian dari serbuk dicampur dengan sebagian dasar salep sampai merata, proses ini diulang sampai semua bagian dari serbuk dan dasar salep bercampur. Bagian bagian yang dibuat salep kemudian dicampurkan, digerus sampai merata dengan gerakan terus menerus dari spatula dan sampai bagian-bagian salep tercampu semua (Anief, 1997).
Apabila hanya sebagian kecil dari serbuk ditambahkan, ini dapat ditambahkan seluruhnya ke dalam sebagian kecil dari dasar salep. Setelah keduanya bercampur, bagian lain dicantumkan untuk campuran, proses ini diulang-ulang seperti “metode geometric” pada penggunaan sehingga semua dasar salep bercampur. Bahan padat yang larut dalam pelarut biasa yang tidak akan mempengaruhi baik terhadap stabilitas obat maupun efektifitas obat dari produk bisa dilarutkan dahulu dalam pelarut itu dan kemudian larutannya ditambahkan kepada dasar salep dengan spatula atau dengan mengaduknya dalam lumping dan alu, umumnya lumpang dan alu lebih disukai bila volume dari cairan yang ditambahkan besar, karena cairan lebih baik ditampung dalam lumpang dari pada dalam lempeng salep (Anief, 1997).
Pencampuran Cairan. Bahan cairan atau larutan obat, seperti diuraikan di atas dapat ditambahkan setelah pertimbangan sifat-sifat salepnya. Misalnya larutan atau preparat berair akan menjadi sukar ditambahkan ke dalam salep berlemak kecuali dalam jumlah yang kecil. Tetapi dasar salep yang dapat menyerap air atau hidrofilik akan lebih sesuai untuk absorbsi atau pencampuran dari larutan berair. Sering apabila ditambahkan preparat cair kepada dasar salep yang bersifat hidrofobik, seorang ahli farmasi mengatakan sebagian dasar salepnya dengan yang hidrofilik, setelah mencampurkan larutan berair dalam dasar hidrofilik, kemudian aduk hasilnya dengan dasar salep yang pertama (Anief, 1997).
Metode yang lainnya adalah metode peleburan. Dengan metode peleburan ini semua atau beberapa komponen dari salep dicampurkan dengan melebur bersama dan didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen-komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada campuran yang sedang mengental setelah didinginkan dan diaduk. Tentu saja bahan-bahan yang mudah menguap ditambahkan terakhir bila temperature dari cairan telah cukup rendah tidak menyebabkan penguraian atau penguapan dari komponen. Banyak bahan-bahan ditambahkan pada campuran yang membeku dalam bentuk larutan, yang lain penambahan sebagai serbuk yang tidak larut, biasanya digerus dengan sebagian dasar salep. Dalam skala kecil proses peleburan dapat dilakukan pada pada cawan porseln atau gelas beker (Anief, 1997).
Krim biasanya digunakan sebagai emolien yaitu obat topical, khususnya minyak atau lemak, digunakan untuk melembutkan kulit dan membuat lebih lentur (krim pendingin). Vanishing cream umumnya merupakan emulsi minyak dalam air, mengandung air dalam presentase yang besar dan asam stearat. Setelah pemakaian krim, air menguap meninggalkan sisa berupa selaput asam stearat yang tipis (Anief, 1997).
Banyak dokter dan pasien lebih suka pada krim dari pada salep, untuk satu hal, umunya mudah menyebar rata dan dalam hal krim dari emulsi jenis minyak dalam air lebih mudah dibersihkan dari pada kebanyakan salep. Pabrik farmasi sering memasarkan preparat topikalnya dalam bentuk dasar krim maupun salep, kedua-duanya untuk memuaskan kesukaan dari dokter dan pasien. Krim harus diawetkan dan dikemas dengan baik pada suhu kamar agar emulsinya tidak rusak karena suhu maupun cahaya (Anief, 1997).

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh., 1997. Ilmu Meracik Obat: Teori dan Praktik. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

Artikel terkait:
Krim

Read more »

Krim

Salep-salep yang banyak mengandung air kita sebut krim, ini dapat digosokkan seluruhnya pada kulit. Krim merupakan sistem emulsi sediaan semipadat dengan penampilan tidak jernih, berbeda dengan salep yang tembus cahaya. Konsistensi dan sifat rheologisnya tergantung pada jenis emulsinya, apakah jenis air dalam minyak atau minyak dalam air, dan juga pada sifat zat padat dalam fase internal (Ansel, 1989).
Krim merupakan salep yang banyak kandungan airnya cukup tinggi, sehingga sediaan bentuk krim ini lebih disukai dari pada salep karena sifatnya yang mudah dicuci (Ansel, 1989).
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Istilah ini secara tradisional telah digunakan untuk sediaan setengah padat yang mempunyai konsistensi relative cair diformulasi sebagai emulsi ait dalam minyak atau minyak dalam air. Sekarang ini batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau disperse mikrokristal asam-asam lemak atau alcohol berantai panjang dalam air, yang dapat dicuci dengan air dan lebih ditujukan untuk penggunaan kosmetika dan estetika. Krim dapat digunakan untuk pemberian obat melalui vaginal (Balsam, 1972).
Krim dapat juga didefinisikan sebagai “cairan kental atau emulsi setengah padat baik bertipe air dalam minyak atau minyak dalam air”. Krim biasanya digunakan sebagai emolien atau pemakaian obat pada kulit (Balsam, 1972).
Istilah krim secara luas digunakan dalam farmasi dan industri kosmetik, dan banyak produk dalam perdagangan disebut sebagai krim tetapi tidak sesuai dengan bunyi definisi di atas. Banyak hasil produksi yang nampaknya sebagai krim tetapi tidak mempunyai dasar dengan jenis emulsi, biasanya disebut krim (Harry, 1953).
Pada pembuatan krim digunakan zat pengemulsi, umumnya berupa surfaktan-surfaktan anionic, kationik, dan nonionic. Pada krim dengan tipe A/M (air dalam minyak) digunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, kolesterol, cera. Sedangkan untuk tipe M/A (minyak dalam air) digunakan sabun monovalen seperti trietanolaminum stearat, natrium stearat, kalium stearat, ammonium stearat. Selain itu dapat juga digunakan tween, natrium lauryl sulfat, kuning telur, gelatin, caseinum, CMC, pectinum, emulgidum. Untuk penstabilan krim harus ditambahkan zat antioksidan dan zat pengawet. Zat pengawet yang biasa digunakan adalah nipagin 0,12-0,18 %, nipasol 0,02-0,05% (Wade, 1994).

Absorpsi melalui kulit (perkutan)
Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk menghasilkan efek terapeutik pada tempat-tempat spesifik di jaringan epidermis. Daerah yang terkena umumnya epidermis dan dermis, sedangkan obat-obat topikal tertentu seperti emolien, antimikroba, dan deodoran terutama bekerja pada permukaan kulit saja. Hal ini memerlukan penetrasi difusi dari kulit atau absorpsi perkutan (Van Duin, 1947).

Rute penetrasi
Bila suatu sistem obat digunakan secara topikal, maka obat akan keluar dari pembawanya dan berdifusi ke permukaan jaringan kulit. Ada tiga jalan masuk yang utama: melalui daerah kantung rambut, melalui kelenjar keringat, atau melalui stratum korneum yang terletak diantara kelenjar keringat dan kantung rambut. Hanya ada beberapa fakta yang kurang meyakinkan bahwa kelenjar ekrin mempunyai peranan yang berarti pada permeabilitas kulit. Bahan-bahan yang dapat memasuki pembuluh dan bahkan kelenjar-kelenjar, tetapi tampaknya tidak ada penetrasi dari daerah ini ke dermis (Van Duin, 1947).

Faktor-faktor dalam penetrasi kulit
Faktor yang mempengaruhi penetrasi kulit pada dasarnya sama dengan faktor-faktor yang mempengaruhi absorpsi saluran cerna dengan laju difusi yang sangat tergantung pada sifat fisika-kimia obat, dan hanya sedikit tergantung pada zat pembawa, pH, dan konsentrasi. Perbedaan fisiologis melibatkan kondisi kulit, yakni apakah kulit dalam keadaan baik atau terluka, umur kulit, daerah kulit yang diobati, ketebalan fase pembatas kulit, perbedaan spesies, dan kelembapan yang dikandung oleh kulit (Van Duin, 1947).

Tipe krim
1. Krim tipe air dalam minyak (A/M)
Krim jenis ini memiliki fasa dalamnya air dan minyak sebagi fasa luarnya. Krim jenis ini mengandung zat pengemulsi air dalam minyak spesifik seperti adeps lanae, wool alkohol atau ester asam lemak dengan sorbiton, sabun polivalen, cera, span.
2. Krim tipe minyak dalam air (M/A)
Krim tipe ini memiliki fase dalam berupa minyak dan air sebagai luarnya. Krim jenis ini lebih disukai oleh penderita karena mudah diratakan pada permukaan kulit, tidak berlemak, dan mudah dibersihkan dengan air (Lachman, et. al., 1994).
Krim tipe ini menggunakan zat pengemulsi dari surfaktan jemis lemak yang ampifil dan umumnya merupakan rantai panjang alcohol walaupun untuk beberapa sediaan kosmetik pemakaian asam lemak lebih popular. Contoh beberapa zat pengemulsinya yaitu sabun monovalen (TEA stearat, Na stearat, K stearat, NH4 stearat), Tween, Na Laurylsulfat, kuning telur, gelatinum, caseinum, CMC, pektinum, dan emulgidum (Lachman, et. al., 1994).
Sediaan krim dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor korelasi, faktor tersebut dapat ditanggulangi dengan berbagai faktor dalam metode pembuatannya, biasanya parameter yang digunakan berupa kekentalan, kerapatan, dan sebagainya yang dihubungkan dengan fungsinya sebagai pembersih, pemberi nutrisi kulit, dan sebagainya (Lachman, et. al., 1994).

Setiap krim dipengaruhi oleh berbagai faktor :
1. Fungsi
Krim yang termasuk dalam kelompok yang dipengaruhi fungsi, dibuat berdasarkan pemakaiannya, contohnya krim tangan dan tubuh (hand and body lotion), vanishing cream, krim malam dan krim urut (night cream and massage cream), krim pembersih (cleansing cream), krim dingin (cold cream), dan krim serbaguna (all-purpose cream).
2. Penampilan fisik
Krim tidak hanya diklasifikasikan dari bentuk cair atau padatnya saja, tetapi dideskripsikan dari lembutnya, kekakuannya, tebal tipisnya krim tersebut.
3. Tipe emulsi
Setiap krim dapat dibuat dengan tipe minyak dalam air atau air dalam minyak, hal ini dipengaruhi oleh dimana krim tersebut digunakan.
4. pH krim
Bila krim tersebut termasuk tipe minyak dalam air maka pH krim tersebut harus meliputi pH seluruh sediaan. Jika tipe air dalam minyak maka harus terdispersi dalam 50% etanol (Ansel, 1989).

DAFTAR PUSTAKA

Ansel, H.C., 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Penerjemah : F. Ibrahim. Edisi ke-4. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Balsam M.S., Sagarin E. 1972 . Cosmetics Science and Technology. Ed ke-2. Volume I. John Wiley and Sons Inc. USA.
Harry, Ralph G. 1953. Harry’s Cosmeticology. Ed ke-6. Chemical Publishing Co Inc. New York.
Lachman, L.; Lieberman, H. A.; Kanig, J. L. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jilid 2. Penerjemah Siti Suyatmi. UI Press. Jakarta.
Van Duin, C.F. 1947. Buku Penuntun Ilmu Resep Dalam Praktek Dan Teori. Penerjemah K. Satiadarma Apt. Pecenongan 58. Jakarta.
Wade, A., Weller, Paul J., 1994. Handbook of Excipients. Second Edition. The Pharmaceutical Press. London

Artikel terkait:
Pembuatan Salep/Krim

Read more »

Sunday, May 15, 2011

TAK SEMUA PENYAKIT PERLU ANTIBIOTIK

TAK SEMUA PENYAKIT PERLU ANTIBIOTIK


Selama ini antibiotik dipercaya sebagai obat manjur yang dapat mengenyahkan berbagai penyakit. Padahal tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik!


Perkembangan ANTIBIOTIK sungguh fantastis, hingga sekian puluh tahun kemudian masyarakat begitu mudah mendapatkan antibiotik di pasaran. Kala terserang flu atau pusing, orang dengan mudah mengobati dirinya sendiri dengan membeli antibiotik di apotek. Sebagian beranggapan, kalau hanya sakit ringan tidak perlu ke dokter. Toh paling-paling dokter akan memberikan resep yang sama dengan antibiotik yang bisa dibeli sendiri di apotek. Padahal penggunaan antibiotik yang sembarangan dapat berakibat fatal.

HARUS SESUAI INDIKASI
Pada prinsipnya antibiotik adalah obat yang digunakan untuk membunuh kuman penyakit dalam tubuh manusia dan menyembuhkannya dari infeksi. Itu pun hanya infeksi kuman yang harus dicermati lebih dulu, sehingga antibiotik yang diberikan bisa cocok dengan infeksi yang diderita.
"Penggunaan antibiotik yang benar harus sesuai dengan indikasinya. Contohnya ada infeksi kulit seperti bisul atau abses. Akan halnya infeksi virus, maka pada kasus ini tidak dibutuhkan antibiotik. Jadi pemakaian antibiotik untuk mengobati penyakit yang disebabkan virus seperti influenza tidak disarankan. Influenza sebetulnya tidak dapat diobati dengan antibiotic. Antibiotik yang diberikan secara tidak tepat, alih-alih menyembuhkan penyakit, yang ada justru menimbulkan banyak kerugian, di antaranya:

* Menimbulkan Kekebalan
Dalam tubuh manusia terdapat kuman-kuman "normal" yang memang dibutuhkan tubuh dan tidak memunculkan penyakit. Dengan konsumsi antibiotik berulang, kuman "normal" ini akan menjadi kebal. Lalu kekebalannya bisa ditularkan pada kuman lain, termasuk kuman yang menyebabkan penyakit. Jadi antibiotik yang dikonsumsi berulang-ulang dapat menimbulkan kekebalan, apalagi bila penggunaan itu sebenarnya tidak perlu. Dikhawatirkan, bila terjadi infeksi yang betul-betul membutuhkan antibiotik, obat tersebut sudah tidak lagi efektif karena tubuh sudah resisten.

* Memunculkan Reaksi Alergi
Bila penggunaannya tidak tepat, antibiotik bisa menyebabkan alergi, seperti gatal, mual, pusing, dan sebagainya. Seringkali dokter menanyakan apakah pasien memiliki alergi obat tertentu atau tidak. Sayangnya, yang sering terjadi pasien tidak tahu apakah dirinya alergi terhadap obat tertentu atau tidak. Lalu bagaimana sebagai pasien kita harus menjawabnya?
Seandainya sama sekali tidak tahu pasti apakah punya riwayat alergi obat atau tidak, "Sebaiknya ya jawab apa adanya. Dokter pasti akan membantu meresepkan obat yang aman. Tapi kalau tahu, misalnya alergi penisilin atau amoksilin, tentu dokter tidak akan meresepkannya. Walaupun belum ada angka pasti berapa banyak orang yang alergi terhadap antibiotik di Indonesia, yang paling banyak dijumpai adalah alergi penisilin. Alergi terhadap obat biasanya ditandai dengan gejala gatal-gatal, sesak napas ataupun reaksi lainnya.

* Harga Obat Jadi Mahal
Penambahan antibiotik yang tidak perlu akan membuat harga obat yang harus ditebus pasien jadi makin mahal. Dalam hal ini pasien punya hak untuk memberikan pandangannya kepada dokter. Misalnya kalau untuk sakit flu dokter meresepkan antibiotik, tanyakan saja apakah itu memang perlu. Lebih baik lagi, berobat saja ke dokter yang memang selektif dalam meresepkan antibiotik.

KEMUNGKINAN EFEK SAMPING

Efek samping antibiotik tidak mesti muncul dari penggunaan jangka panjang karena penggunaan jangka pendek pun bisa saja menimbulkan kerugian. Misalnya, pada orang-orang tertentu, antibiotik yang masuk ke tubuh dapat memunculkan reaksi berlebihan. Akibat yang paling parah di antaranya Sindrom Steven Johnson, yang bisa berujung kematian.
Adapun jangka waktu penggunaan antibiotik sangat bervariasi tergantung pada berat ringannya penyakit. Untuk infeksi kuman yang ringan, penggunaan selama lima hari sudah cukup. Sedangkan untuk infeksi kuman yang sifatnya khusus, seperti TBC, waktu yang dibutuhkan jelas lebih lama, minimal 6 bulan. Berikut beberapa contoh antibiotik dan kemungkinan efek samping yang bisa ditimbulkannya:
Namun, bukan berarti obat-obat tersebut tidak boleh dikonsumsi, karena manfaatnya justru besar bila digunakan dengan indikasi yang benar. Sudah banyak bukti bahwa antibiotik dapat menyelamatkan nyawa manusia. Yang perlu kita lakukan adalah bersikap hati-hati, karena penggunaannya yang salah dapat berakibat fatal.

HARUSKAH DIHABISKAN?
Bila penggunaan antibiotik tersebut tepat sesuai indikasi, tak ada cara lain kecuali harus dihabiskan. Contohnya untuk infeksi saluran pernapasan bawah yang disebabkan oleh kuman. Kalau dokter meresepkan harus dikonsumsi selama 7 hari dan harus dihabiskan, maka selama 7 hari itu harus benar-benar dihabiskan, supaya tidak terjadi pemburukan pada penyakit tersebut.
Sedangkan antibiotik yang tidak tepat penggunaannya, misalnya untuk flu yang memang tidak membutuhkan antibiotik ya sebaiknya segera dihentikan. Makin cepat menghentikan konsumsi antibiotik yang tidak benar, tentu semakin baik.

ANTIBIOTIK GENERIK VS PATEN

Belakangan marak dikampanyekan pemakaian obat generik, termasuk jenis antibiotik. Adakah perbedaan efektivitas antara antibiotik generik dengan yang paten? Obat generik sama manjurnya dengan obat paten. Bahkan seringkali diproduksi di pabrik yang sama dengan proses yang sama pula.
Bedanya yang satu diberi nama dagang dan menjadi obat paten yang harganya lebih mahal. Sedangkan yang tidak memakai nama dagang atau dikenal dengan istilah generik, harganya relatif lebih murah.
Namun harus diingat tidak semua obat memiliki versi generiknya. Kalau memang obat tersebut tidak ada generiknya, mau tidak mau pasien harus membeli obat dengan merek paten.

MINUMLAH OBAT SEPERLUNYA
Ada beberapa hal yang dianjurkan Rianto sehubungan dengan konsumsi antibiotik, berikut di antaranya;
- Orang tua sebaiknya "waspada" dengan mencari dokter yang bisa meresepkan obat secara baik dan benar.
- Bila diresepkan sederet obat dan banyak macamnya, sebaiknya langsung tanyakan. Dokter yang baik hanya akan meresepkan obat yang memang sesuai dengan indikasi penyakit yang diderita pasien saja.
- Kalau demam, batuk, dan flu ringan, boleh saja menggunakan obat yang dijual di pasaran sebagai pertolongan pertama tapi jangan langsung mengandalkan antibiotik.
- Jangan sembarangan menggunakan antibiotik, meski mungkin bisa dibeli sendiri di apotek.

sumber: Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Padjadjaran
Read more »

 
Powered by Blogger