Thursday, February 9, 2012

Soal UAS Kimia Klinik Bu Eli

by : Vani Pratami
edited by : Valdis Rein

1. a. Kenapa Ureum dan kreatinin dipilih untuk diagnosa ginjal dan uji mana yang lebih baik?
Jawab:
Ureum dan Kreatinin
- Ureum : sekresi ureum berasal dari waste product metabolisme nitrogen (protein). Saat gagal ginjal uremia/azotemia, waste product ini akan terakumulasi di dalam serum karena ginjal tidak bisa mensekresikannya, sementara sekresi ureum ini hanya lewat ginjal saja. Akhirnya meningkatkan kadar nitrogen urea darah (BUN), sehingga parameter pengujian gagal ginjal ini dapat dilakukan dengan mengukur kadar urea dalam serum.
- Kreatinin : sekresi kreatinin merupakan waste product metabolisme kreatinin fosfat dalam otot yang berdifusi ke dalam plasma untuk disekresikan ke dalam urin lewat ginjal. Dalam keadaan gagal ginjal, kreatinin ditahan bersama unsur nonprotein lainnya dalam plasma karena tidak dapat disekresikan. Maka dari itu pengukuran kreatinin dapat dilakukan dengan mengukur kadar urea dalam serum.

The choice is Kreatinin, karena tidak seperti ureum, sekresi ureum juga dipengaruhi oleh konsumsi makanan sehingga tidak dapat dipastikan bahwa hasil pengukuran ureum itu murni hasil metabolisme tubuh atau yang sudah bergabung dengan hasil perombakan makanan. Sementara kreatinin hanya dipengaruhi oleh aktivitas otot, dan metabolisme tetap konstan.

b. Bagaimana diagnosis pasien asidosis dan alkalosis dan bagaimana penyembuhannya?
Jawab:
Diagnosis pasien asidosis dan alkalosis :
- Asidosis : sakit kepala, mual, muntah, bisa sampai koma dan meninggal apabila pH < 6. Saat asidosis, kadar H+ tinggi dan kadar HCO3- nya rendah (< 22 mEq/l). Maka dari itu saat mendiagnosis, perlu diperhatikan pula pH darah dari gas CO2 dan HCO3-. Asidosis terbagi menjadi dua, yakni metabolic dan respiratorik. Asidosis metabolic terjadi apabila kadar HCO3- plasma rendah dan respiratorik apabila tekanan CO2 tinggi. Asidosis metabolic dapat terjadi pada pasien gagal ginjal, hipoksia dan DM. Sedangkan, respiratorik terjadi pada pasien asma dan bronchitis.Treatment dengan ringer laktat IV. - Alkalosis : umumnya akibat diare berat (dehidrasi), gejala yg ditimbulkan adalah takikardia, disritmia, tremor, dan rendahnya kemampuan bernafas. Dilihat dengan mengukur kadar H+ (akan rendah) dan HCO3- dan tekanan CO2 (akan tinggi : >36 mEq/l). Keadaan metabolic dan respiratoriknya nerkebalikan dengan asidosis. Alkalosis metabolic biasanya terjadi pada pasien dengan penyumbatan pylorus. Sedangkan respiratorik pada pasien udem dan fibrosis paru2. Treatment dengan larutan klorida + elektrolit lewat IV.

2. Apa yang dimaksud dengan hipertensi dan bagaimana mendiagnosisnya?
Jawab:
Hipertensi adalah keadaan dimana tekanan darah meningkat akibat berbagai factor, tergantung jenis dari hipertensi itu sendiri.. Terdiri dari hipertensi primer (idiopatik) dan sekunder (akibat penyakit yg diderita). Umumnya, hipertensi terjadi akibat naiknya TD atau volume cairan tubuh, sehingga dpt meningkatkan kontraksi jantung utk memompa darah. Diagnosis dengan ukur Tekanan Darah, normal : 120/80.

3. a. Sebutkan macam-macam parameter uji tiroid dan jelaskan parameter uji mana yang paling baik!
Jawab:
Thyroid disorder
Terdapat strategi pengukuran kelainan tiroid, yakni dengan mengukur
1. TT3/TT4
2. FT4I
3. FT4/FT3
4. TSH
5. FT4 + TSHs
Pengukuran paling baik adalah pada nomor 5, yakni mengukur FT4 dan TSHs. Dengan mengukur FT4, tiroid yang terukur sdengan dlm keadaan bebas tanpa terikat pada protein lain seperti Tiroglobulin, tiroglobulin ini berbeda-beda kadarnya pada orang hamil dan yang sedang mengonsumsi obat-obatan. TSHs juga akan memberikan informasi diagnostic yang lebih baik. Parameter ini dapat membedakan jenis kelainan tiroid, beserta tipenya (primer, sekunder, atau tersier).

b. Bagaimana diagnosis pasien yang mengalami gangguan tiroid?
Jawab:
Diagnosis kelainan tiroid dapat dilakukan dengan melihat gejala yang ditimbulkan oleh pasien
Berikut perbedaan symptoms tiroid ;

- Hipotiroid : kadar FT4 rendah dan TSH tinggi (klinik), FT4 normal TSH tinggi (subklinik)
- Hipertiroid : kadar FT4 tinggi dan TSH rendah (klinik), FT4 normal TSH rendah (subklinik)
- Adapun tambahan kelainan, yakni apabila :
• FT4 tinggi TSH tinggi : hipofisis resistensi akibat tumor
• FT4 rendah TSH rendah : kelainan hipofisis karena tidak dapat terstimulasi oleh FT4.
Read more »

Friday, February 3, 2012

Metode Pengujian Aktivitas Analgesik

Metode-metode pengujian aktivitas analgesik dilakukan dengan menilai kemampuan zat uji untuk menekan atau menghilangkan ras nyeri yang diinduksi pada hewan percobaan (mencit, tikus, marmot), yang meliputi induksi secara maknik, termik, elekrik, dan secara kimia. Metode pengujian dengan induksi nyeri secara mekanik atau termik lebih sesuai untuk mengevaluasi obat-obat analgetik kuat. Pada umumnya daya kerja analgetika dinilai pada hewan dengan mengukut besarnya peningkatan stimulus nyeri yang harus diberikan sampai ada respon nyeri atau jangka waktu ketahanan hewan terhadap stimulasi nyeri atau juga peranan frekuensi respon nyeri (Kelompok Kerja Phytomedica, 1993).

1. Metode geliat
Obat uji dinilai kemampuannya dalam menekan atau menghilangkan rasa nyeri yang diinduksi secara (pemberian asam asetat secara intraperitonial) pada hewan percobaan mencit (Kelompok Kerja Phytomedica, 1993). Manifestasi nyeri akibat pemberian perangsang nyeri asam asetat intraperitonium akan menimbulkan refleks respon geliat (writhing) yang berupa tarikan kaki ke belakang, penarikan kembali abdomen (retraksi) dan kejang tetani dengan membengkokkan kepala dan kaki belakang. Metode ini dikenal sebagai Writhing Reflex Test atau Abdominal Constriction Test (Wuryaningsih,1996). Frekuensi gerakan ini dalam waktu tertentu menyatakan derajat nyeri yang dirasakannya (Kelompok Kerja Phytomedica, 1993). Metode ini tidak hanya sederhana dan dapat dipercaya tetapi juga memberikan evaluasi yang cepat terhadap jenis analgesik perifer (Gupta et al., 2003).

2. Metode Listrik
Metode ini menggunakan aliran listrik sebagai penginduksi nyeri (Vohora dan Dandiya, 1992). Sebagai respon terhadap nyeri, hewan akan menunjukkan gerakan atau cicitan. Arus listrik dapat ditingkatkan sesuai dengan kekuatan analgesik yang diberikan. Metode ini dapat dilakukan terhadap kera, anjing, kucing, kelinci, tikus dan mencit (Manihuruk, 2000).

3. Metode Panas
Tiga metode yang bisa digunakan untuk memberikan rangsangan panas:
a. Pencelupan ekor hewan percobaan dalam penangas air panas yang dipertahankan pada suhu 60 ± 1oC.
b. Penggunaan panas radiasi terhadap ekor hewan percobaan melalui kawat Ni panas (5,5 ± 0,05 Amps) (Vohora dan Dandiya, 1992).
c. Metode hot plate
Metode ini cocok untuk evaluasi analgesik sentral (Gupta et al., 2003). Pada metode ini hewan percaobaan diletakkan dalam beaker glass di atas plat panas (56 ± 1oC) sebagai stimulus nyeri. Hewan percobaan akan memberikan respon terhadap nyeri dengan menggunakan atau menjilat kaki depan. Peningkatan waktu reaksi yaitu waktu antara pemberian stimulus nyeri dan terjadinya respon dapat dijadikan parameter untuk evaluasi aktivitas analgesik (Adeyemi, 2001).

4. Metode Mekanik
Metode ini menggunakan tekanan sebagai penginduksi nyeri. Tekanan diberikan pada ekor atau kaki hewan percobaan. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah tekanan yang diperlukan untuk menimbulkan nyeri sebelum dan sesudah diberi obat. Metode ini dapat dilakukan terhadap anjing, tikus, dan mencit (Manihuruk, 2000).

Referensi
Adeyemi. 2001. Analgesic and Anti-inflammatory Effects of The Aqueous Extract of Leaves of Persea americana Mill. (Lauraceae). Italy: J. Fitoterapia, 73, Elsevier, Indena, p. 375-377.
Gupta, M., U.K. Mazumder, R.S. Kumar dan T.S. Kumar. 2003. Studies on Anti- inflammatory, Analgesic and Antipyretic Properties of Methanol Extract of Caesalpinia bonducella leaves in Experimental Animal Models, Iranian J. Pharmacology & Therapeutics. Calcutta, India: Razi Institute for Drug Research.
Kelompok Kerja Phyto Medica. 1993. Penapisan Farmakologi, Pengujian Fitokimia dan Pengujian Klinis. Jakarta: Yayasan Phytomedica. hal. 3-6.
Manihuruk, E. Skripsi: Aktivitas Analgesik Daun Dewa (Gynura procumbens (Lour.) Merr. dan Gynura pseudochina (L.) DC.) pada Mencit Dengan Metode Geliat. Jatinangor: Jurusan Farmasi, FMIPA, Universitas Padjadjaran. hal. 18.
Vohora, S.B. and P.C. Dandiya. 1992. Herbal Analgesic Drugs. Italy: J. Fitoterapia, LXIII (3), Elsevier, Indena. p. 202
Wuryaningsih, L.E., M.A. Rarome, T. Windono. 1996. Uji Analgesik Ekstrak Etanol Kering Rimpang Kencur Asal Purwodadi pada Mencit Dengan Metode Geliat (Writhing Reflex Test), 3. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. hal. 24-25.
Read more »

Wednesday, January 11, 2012

Sediaan Transdermal

Ketika diberikan secara oral, banyak obat yang dirusak oleh hati. Pemberian obat melalui kulit sering menawarkan alternatif rute pelepasan yang lebih lambat, lebih terkontrol ke aliran darah. Mekanisme bagaimana obat berpenetrasi ke kulit dan masuk ke aliran darah bukanlah hal yang sepele, karena kulit bertindak sebagai pembatas alami. Oleh karena itu, penting untuk memahami struktur kulit, dan pada stratum corneum tertentu, atau permukaan lebih luar, sebelum mencoba menempatkan obat untuk melaluinya. Sekelompok pekerja dari Leiden Center for Drug Research di Belanda telah menggunakan SRS untuk mempelajari masalah ini secara detil.


Gb1. Sudut lebar pola difraksi dari stratum corneum yang terekam oleh SRS

Secara struktural, kulit terdiri dari dua bagian utama; bagian luar, lapisan tipis disebut epidermis dan bagian dalam yang lebih tebal disebut dermis. Epidermis (Gb.2), terdiri dari sel yang morfologi dan fungsinya berubah secara berkelanjutan dari basal ke permukaan lebih atas. Kerja ini telah difokuskan pada pembelajaran struktur dari stratum corneum yang terdiri dari sel mati yang rata (corneocyte), yang mana terisi oleh keratin sepenuhnya. Area antara sel terisi dengan lipid, yang membentuk fase lamellar sebagai pembentuk barrier alami kulit. Lipid ini hanya terdiri dari 1% stratum corneum dan SRS penting untuk mempelajarinya dengan skala waktu yang masuk akal. Komposisi lipid juga berubah sepanjang epidermis, dengan stratum corneum disusun terutama oleh asam lemak bebas, kolesterol dan ceramides.


Gb.2. Gambaran skema epidermis kulit. Struktur stratum corneum ditunjukkan pada gambar sebelah kiri.

Transdermal patch atau plester transdermal atau plester kulit adalah plester adesif yang mengandung obat yang ditempatkan pada kulit untuk menghantarkan dosis pelepasan obat berdasarkan waktu melalui kulit dank e dalam aliran darah. Plester transdermal digunakan untuk menghantarkan sediaan farmasi dengan variasi luas. Pertama kali tersedia secara komersil dan disetujui oleh FDA (Food and Drug Administration) Amerika Serikat pada Desember 1979, yaitu scopolamine untuk mabuk kendaraan. Plester kulit yang paling dikenal saat ini adalah plester nikotin yang melepaskan nikotin untuk membantu menghentikan kebiasaan merokok. Plester kulit lain yang didaftarkan adalah estrogen untuk menopause dan mencegah osteoporosis pasca menopause, nitrogliserin untuk angina, dan lidokain untuk menghilangkan rasa sakit akibat ruam saraf (herpes zoster). Perkembangan terbaru memperluas penggunaannya untuk menghantarkan hormone, antidepresan dan bahkan pembunuh rasa sakit. Beberapa sediaan farmasi harus dikombinasikan dengan senyawa lain seperti alcohol untuk meningkatkan kemampuannya dalam berpenetrasi ke dalam kulit agar dapat digunakan dalam bentuk plester transdermal. Molekul insulin dan banyak sediaan farmasi lain yang terlalu besar untuk dihantarkan melalui kulit.


Gb.3. Contoh gambar plester transdermal

Referensi
Bowstra, J. 2006. Transdermal Drug Administration. Available in http://srs.dl.ac.uk/Annual_Reports/AnRep94_95/Ch2/Transdermal.htm.
Anonymous. 2007. Transdermal Patch. Available in http://en.wikipedia.org/wiki/Transdermal_patch.
Read more »

Pemberian Cairan Infus

Infus cairan intravena (intravenous fluids infusion) adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh, melalui sebuah jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan atau zat-zat makanan dari tubuh.
Secara umum, keadaan-keadaan yang dapat memerlukan pemberian cairan infus adalah:
  • Perdarahan dalam jumlah banyak (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
  • Trauma abdomen (perut) berat (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
  • Fraktur (patah tulang), khususnya di pelvis (panggul) dan femur (paha) (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)
  • “Serangan panas” (heat stroke) (kehilangan cairan tubuh pada dehidrasi)
  • Diare dan demam (mengakibatkan dehidrasi)
  • Luka bakar luas (kehilangan banyak cairan tubuh)
  • - Semua trauma kepala, dada, dan tulang punggung (kehilangan cairan tubuh dan komponen darah)

Indikasi pemberian obat melalui jalur intravena antara lain:
  • Pada seseorang dengan penyakit berat, pemberian obat melalui intravena langsung masuk ke dalam jalur peredaran darah. Misalnya pada kasus infeksi bakteri dalam peredaran darah (sepsis). Sehingga memberikan keuntungan lebih dibandingkan memberikan obat oral. Namun sering terjadi, meskipun pemberian antibiotika intravena hanya diindikasikan pada infeksi serius, rumah sakit memberikan antibiotika jenis ini tanpa melihat derajat infeksi. Antibiotika oral (dimakan biasa melalui mulut) pada kebanyakan pasien dirawat di RS dengan infeksi bakteri, sama efektifnya dengan antibiotika intravena, dan lebih menguntungkan dari segi kemudahan administrasi RS, biaya perawatan, dan lamanya perawatan.
  • Obat tersebut memiliki bioavailabilitas oral (efektivitas dalam darah jika dimasukkan melalui mulut) yang terbatas. Atau hanya tersedia dalam sediaan intravena (sebagai obat suntik). Misalnya antibiotika golongan aminoglikosida yang susunan kimiawinya “polications” dan sangat polar, sehingga tidak dapat diserap melalui jalur gastrointestinal (di usus hingga sampai masuk ke dalam darah). Maka harus dimasukkan ke dalam pembuluh darah langsung.
  • Pasien tidak dapat minum obat karena muntah, atau memang tidak dapat menelan obat (ada sumbatan di saluran cerna atas). Pada keadaan seperti ini, perlu dipertimbangkan pemberian melalui jalur lain seperti rektal (anus), sublingual (di bawah lidah), subkutan (di bawah kulit), dan intramuskular (disuntikkan di otot).
  • Kesadaran menurun dan berisiko terjadi aspirasi (tersedak—obat masuk ke pernapasan), sehingga pemberian melalui jalur lain dipertimbangkan.
  • Kadar puncak obat dalam darah perlu segera dicapai, sehingga diberikan melalui injeksi bolus (suntikan langsung ke pembuluh balik/vena). Peningkatan cepat konsentrasi obat dalam darah tercapai. Misalnya pada orang yang mengalami hipoglikemia berat dan mengancam nyawa, pada penderita diabetes mellitus. Alasan ini juga sering digunakan untuk pemberian antibiotika melalui infus/suntikan, namun perlu diingat bahwa banyak antibiotika memiliki bioavalaibilitas oral yang baik, dan mampu mencapai kadar adekuat dalam darah untuk membunuh bakteri.
Indikasi Pemasangan Infus melalui Jalur Pembuluh Darah Vena (Peripheral Venous Cannulation)
  • Pemberian cairan intravena (intravenous fluids).
  • Pemberian nutrisi parenteral (langsung masuk ke dalam darah) dalam jumlah terbatas.
  • Pemberian kantong darah dan produk darah.
  • Pemberian obat yang terus-menerus (kontinyu).
  • Upaya profilaksis (tindakan pencegahan) sebelum prosedur (misalnya pada operasi besar dengan risiko perdarahan, dipasang jalur infus intravena untuk persiapan jika terjadi syok, juga untuk memudahkan pemberian obat)
  • Upaya profilaksis pada pasien-pasien yang tidak stabil, misalnya risiko dehidrasi (kekurangan cairan) dan syok (mengancam nyawa), sebelum pembuluh darah kolaps (tidak teraba), sehingga tidak dapat dipasang jalur infus.
  • Kontraindikasi dan Peringatan pada Pemasangan Infus Melalui Jalur Pembuluh Darah Vena
  • Inflamasi (bengkak, nyeri, demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus.
  • Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah).
  • Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki).
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi dalam pemasangan infus:
  • Hematoma, yakni darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah arteri vena, atau kapiler, terjadi akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau “tusukan” berulang pada pembuluh darah.
  • Infiltrasi, yakni masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah), terjadi akibat ujung jarum infus melewati pembuluh darah.
  • Tromboflebitis, atau bengkak (inflamasi) pada pembuluh vena, terjadi akibat infus yang dipasang tidak dipantau secara ketat dan benar.
  • Emboli udara, yakni masuknya udara ke dalam sirkulasi darah, terjadi akibat masuknya udara yang ada dalam cairan infus ke dalam pembuluh darah.
Komplikasi yang dapat terjadi dalam pemberian cairan melalui infus:
  • Rasa perih/sakit
  • Reaksi alergi
Jenis Cairan Infus
  • Cairan hipotonik: osmolaritasnya lebih rendah dibandingkan serum (konsentrasi ion Na+ lebih rendah dibandingkan serum), sehingga larut dalam serum, dan menurunkan osmolaritas serum. Maka cairan “ditarik” dari dalam pembuluh darah keluar ke jaringan sekitarnya (prinsip cairan berpindah dari osmolaritas rendah ke osmolaritas tinggi), sampai akhirnya mengisi sel-sel yang dituju. Digunakan pada keadaan sel “mengalami” dehidrasi, misalnya pada pasien cuci darah (dialisis) dalam terapi diuretik, juga pada pasien hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) dengan ketoasidosis diabetik. Komplikasi yang membahayakan adalah perpindahan tiba-tiba cairan dari dalam pembuluh darah ke sel, menyebabkan kolaps kardiovaskular dan peningkatan tekanan intrakranial (dalam otak) pada beberapa orang. Contohnya adalah NaCl 45% dan Dekstrosa 2,5%.
  • Cairan Isotonik: osmolaritas (tingkat kepekatan) cairannya mendekati serum (bagian cair dari komponen darah), sehingga terus berada di dalam pembuluh darah. Bermanfaat pada pasien yang mengalami hipovolemi (kekurangan cairan tubuh, sehingga tekanan darah terus menurun). Memiliki risiko terjadinya overload (kelebihan cairan), khususnya pada penyakit gagal jantung kongestif dan hipertensi. Contohnya adalah cairan Ringer-Laktat (RL), dan normal saline/larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%).
  • Cairan hipertonik: osmolaritasnya lebih tinggi dibandingkan serum, sehingga “menarik” cairan dan elektrolit dari jaringan dan sel ke dalam pembuluh darah. Mampu menstabilkan tekanan darah, meningkatkan produksi urin, dan mengurangi edema (bengkak). Penggunaannya kontradiktif dengan cairan hipotonik. Misalnya Dextrose 5%, NaCl 45% hipertonik, Dextrose 5%+Ringer-Lactate, Dextrose 5%+NaCl 0,9%, produk darah (darah), dan albumin.
Pembagian cairan lain adalah berdasarkan kelompoknya:
  • Kristaloid: bersifat isotonik, maka efektif dalam mengisi sejumlah volume cairan (volume expanders) ke dalam pembuluh darah dalam waktu yang singkat, dan berguna pada pasien yang memerlukan cairan segera. Misalnya Ringer-Laktat dan garam fisiologis.
  • Koloid: ukuran molekulnya (biasanya protein) cukup besar sehingga tidak akan keluar dari membran kapiler, dan tetap berada dalam pembuluh darah, maka sifatnya hipertonik, dan dapat menarik cairan dari luar pembuluh darah. Contohnya adalah albumin dan steroid.
Pemberian Cairan Infus pada Anak
Berapa Banyak Cairan yang Dibutuhkan Anak Sehat?
Anak sehat dengan asupan cairan normal, tanpa memperhitungkan kebutuhan cairan yang masuk melalui mulut, membutuhkan sejumlah cairan yang disebut dengan “maintenance”.
Cairan maintenance adalah volume (jumlah) asupan cairan harian yang menggantikan “insensible loss” (kehilangan cairan tubuh yang tak terlihat, misalnya melalui keringat yang menguap, uap air dari hembusan napas dalam hidung, dan dari feses/tinja), ditambah ekskresi/pembuangan harian kelebihan zat terlarut (urea, kreatinin, elektrolit, dll) dalam urin/air seni yang osmolaritasnya/kepekatannya sama dengan plasma darah.
Kebutuhan cairan maintenance anak berkurang secara proporsional seiring meningkatnya usia (dan berat badan). Perhitungan berikut memperkirakan kebutuhan cairan maintenance anak sehat berdasarkan berat bdan dalam kilogram (kg).
Cairan yang digunakan untuk infus maintenance anak sehat dengan asupan cairan normal adalah:
NaCl 0.45% dengan Dekstrosa 5% + 20mmol KCl/liter
Penyalahgunaan cairan infus yang banyak terjadi adalah dalam penanganan diare (gastroenteritis) akut pada anak.

Pemberian cairan infus banyak disalahgunakan (overused) di Unit Gawat Darurat (UGD) karena persepsi yang salah bahwa jenis drehidrasi ini lebih cepat menangani diare, dan mengurangi lama perawatan di RS.
Gastroenteritis akut disebabkan oleh infeksi pada saluran cerna (gastrointestinal), terutama oleh virus, ditandai adanya diare dengan atau tanpa mual, muntah, demam, dan nyeri perut. Prinsip utama penatalaksanaan gastroenteritis akut adalah menyediakan cairan untuk mencegah dan menangani dehidrasi.6
Penyakit ini umumnya sembuh dengan sendirinya (self-limiting), namun jika tidak ditangani dapat menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit yang bisa mengancam nyawa. Dehidrasi yang diakibatkan sering membuat anak dirawat di RS.6
Terapi cairan yang diberikan harus mempertimbangkan tiga komponen: rehidrasi (mengembalikan cairan tubuh), mengganti kehilangan cairan yang sedang berlangsung, dan “maintenance”.3 Terapi cairan ini berdasarkan penilaian derajat dehidrasi yang terjadi.
Penilaian Derajat Dehidrasi (dinyatakan dalam persentase kehilangan berat badan)3
Tanpa Dehidrasi:
  • Diare berlangsung, namun produksi urin normal, maka makan/minum dan menyusui diteruskan sesuai permintaan anak (merasa haus).
  • Dehidrasi Ringan (< 5%) - Kotoran cair (watery diarrhea) - Produksi urin (air seni) berkurang - Senantiasa merasa haus - Permukaan lapisan lendir (bibir, lidah) agak kering - Dehidrasi Sedang (5-10%) - Turgor (kekenyalan) kulit berkurang - Mata cekung - Permukaan lapisan lendir sangat kering - Ubun-ubun depan mencekung - Dehidrasi Berat (>10%)

Tanda-tanda dehidrasi sedang ditambah:
  • Denyut nadi cepat dan isinya kurang (hipotensi/tekanan darah menurun)
  • Ekstremitas (lengan dan tungkai) teraba dingin
  • Oligo-anuria (produksi urin sangat sedikit, kadang tidak ada), sampai koma
American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian CRO dalam penatalaksanaan diare (gastroenteritis) pada anak dengan dehidrasi derajat ringan-sedang. Penggunaan cairan infus hanya dibatasi pada anak dengan dehidrasi berat, syok, dan ketidakmampuan minum lewat mulut.5
Terapi rehidrasi (pemberian cairan) oral (oral rehydration therapy) seperti oralit dan Pedialyte® terbukti sama efektifnya dengan cairan infus pada diare (gastroenteritis) dengan dehidrasi sedang.4 Keuntungan tambahan lain adalah waktu yang dibutuhkan untuk memberikan terapi CRO ini lebih cepat dibandingkan dengan harus memasang infus terlebih dahulu di Unit Gawat Darurat (UGD) RS. Bahkan dalam analisis penatalaksanaan, pasien yang diterapi dengan CRO sedikit yang masuk perawatan RS. Hasil penelitian ini meyarankan cairan rehidrasi oral menjadi terapi pertama pada anak diare di bawah 3 tahun dengan dehidrasi sedang.
Pada anak dengan muntah dan diare akut, apakah pemberian cairan melalui infus (intravenous fluids) mempercepat pemulihan dibandingkan dengan cairan rehidrasi oral (oral rehydration therapy/solution/CRO/oralit)?
Ternyata pemberian cairan infus tidak mempersingkat lamanya penyakit, dan bahkan mampu menimbulkan efek samping dibandingkan pemberian oralit.5
Sebuah penelitian meta analisis internasional yang membandingkan CRO (oralit) dengan cairan intravena/infus pada anak dengan derajat dehidrasi ringan sampai berat menunjukkan bahwa CRO mengurangi lamanya perawatan di RS sampai 29 jam.5 Sebuah studi lain juga menyimpulkan CRO menangani dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) dan asidosis (keasaman darah meningkat) lebih cepat dan aman dibandingkan cairan infus.5 Penelitian lain menunjukkan keuntungan lain oralit pada diare dengan dehidrasi ringan-sedang adalah mengurangi lamanya diare, meningkatkan (mengembalikan) berat badan anak, dan efek samping lebih minimal dibandingkan cairan infus.
Pengawasan (Monitoring)
  • Semua anak yang mendapatkan cairan infus sebaiknya diukur berat badannya, 6 –8 jam setelah pemberian cairan, dan kemudian sekali sehari.
  • Semua anak yang mendapatkan cairan infus sebaiknya diukur kadar elektrolit dan glukosa serum sebelum pemasangan infus, dan 24 jam setelahnya.
  • Bagi anak yang tampak sakit, periksa kadar elektrolit dan glukosa 4 – 6 jam setelah pemasangan, dan sekali sehari sesudahnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Intravenous Fluids. Clinical Practice Guidelines. Royal Children’s Hospital Melbourne. http://www.rch.org.au/clinicalguide/cpg.cfm
2. C Waitt, P Waitt, M Pirmohamed. Intravenous Therapy. Postgrad. Med. J. 2004; 80; 1-6.
3. Nutrition Committee, Canadian Paediatric Society. Oral Rehydration Therapy and Early Refeeding in the Management of Childhood Gastroenteritis. The Canadian Journal of Paediatrics 1994; 1(5): 160-164.
4. Spandorfer PR, Alessandrini EA, Joffe MD, Localio R, Shaw KN. Oral Versus Intravenous Rehydration of Moderately Dehydrated Children: A Randomized, Controlled Trial. Pediatrics Vol. 115 No. 2 February 2005. American Academy of Pediatrics.
5. Banks JB, Meadows S. Intravenous Fluids for Children with Gastroenteritis. Clinical Inquiries, American Family Physician, January 1 2005. American Academy of Family Physicians.
6. D Payne J, Elliot E. Gastroenteritis in Children. Clin Evid 2004; 12: 1-3. BMJ Publishing Group Ltd 2004.
7. Eliason BC, Lewan RB. Gastroenteritis in Children: Principles of Diagnosis and Treatment. American Family Physician Nov 15 1998. American Academy of Family Physicians.
8. Revision of Intravenous Infusion
9. Martin S. Intravenous Therapy. Nova Southeastern University PA Program.
Popularity: unranked [?]
Read more »

Monday, January 9, 2012

Sistem syaraf otonom

Sistem syaraf otonom yang dikenal juga dengan nama sistem syaraf vegetatif, sistem syaraf visceral atau sistem syaraf tidak sadar, sistem mengendalikan dan mengatur kemauan. Sistem syaraf ini terdiri dari atas serabut syaraf-syaraf, ganglion-ganglion dan jaringan syaraf yang mensyarafi jantung, pembuluh darah, kelenjar-kelenjar, alat-alat dalaman dan otot-otot polos. Obat-obat yang sanggup mempengaruhi fungsi sistem syaraf otonom, bekerja berdasarkan kemampunannya untuk meniru atau memodifikasi aktivitas neurohimor-transmitor tertentu yang dibebaskan oleh serabut syaraf otonom di ganglion atau sel-sel (organ-organ) efektor. Termasuk kelompok ini pula adalah beberapa kelenjar (ludah, keringat dan pencernaan) dan juga otot jantung, yang sebagai pengecualian bukan merupakan otot polos, tetapi suatu otot lurik. Dengan demikian, sistem saraf otonom tersebar luas di seluruh tubuh dan fungsinya adalah mengatur secara otomatis keadaan fisiologi yang konstan, seperti suhu badan, tekanan, dan peredaran darah, serta pernapasan (Tjay & Rahardja, 2002).

Anatomi Susunan Saraf Otonom
Sistem saraf otonom membawa impuls saraf dari susunan saraf pusat ke organ efektor melalui 2 jenis serat saraf eferen yaitu saraf praganglion dan saraf pascaganglion. Lingkaran refleks saraf otonom terdiri dari serat aferen yang sentripental disalurkan melalui N. vagus, pelvikus, splanknikus, dan saraf otonom lainnya. Badan sel serat-serat ini terletak di ganglia dalam kolumna dorsalis dan ganglia sensorik dari saraf kranial tertentu. Tidak jelas perbedaan antara serabut aferen sistem saraf otonom dengan serabut aferen sistem somatik, sehingga tidak dikenal obat yang secara spesifik dapat mempengaruhi serabut aferen otonom. Serat eferen yang disalurkan melalui saraf praganglion, ganglion, dan saraf pascaganglion berakhir pada sel efektor (Tjay & Rahardja, 2002).
Saraf otonom juga berhubungan dengan saraf somatik; sebaliknya kejadian somatik dapat mempengaruhi fungsi organ otonom. Pada susunan saraf pusat terdapat beberapa pusat otonom, yaitu di medulla oblongata terdapat pengatur pernapasan dan tekanan darah; hipotalamus dan hipofisis yang mengatur suhu tubuh, keseimbangan air, metabolisme karbohidrat dan lemak, pusat tidur dan sebagainya. Hipotalamus dianggap sebagai pusat sistem saraf otonom. Walaupun demikian masih ada pusat yang lebih tinggi lagi yang dapat mempengaruhinya yaitu korpus striatum dan korteks serebrum yang dianggap sebagai koordinator antara sistem otonom dan somatik (Tjay & Rahardja, 2002).
Serat eferen terbagi dalam sistem simpatis dan parasimpatis. Sistem simpatis disalurkan melalui serat torakolumbal dari torakal 1 sampai lumbal 3, dalam sistem ini termasuk ganglia paravertebral, pravertebral dan ganglia terminal. Sistem parasimpatis atau kraniosakral outflow disalurkan melalui saraf otak ke III, VII, IX dan X, dan N. pelvikus yang berasal dari bagian sacral segmen 2, 3, dan 4. Sebagian besar neuron praganglion parasimpatis berakhir di sel-sel ganglion yang tersebar merata atau yang terdapat pada dinding organ efektor (Mutschler, 1991).
Serat aferen misalnya yang berasal dari presoreseptor dan kemoreseptor dalam sinus karotikus, badan karotis dan aorta yang diteruskan melalui N. IX dan X menuju ke medulla oblongata. Sistem ini berhubungan dengan refleks untuk mempertahankan tekanan darah, frekuensi jantung dan pernapasan (Mutschler, 1991).
Neurotransmitter yang memperantarakan perpindahan impuls di serabut aferen belum jelas dipahami. Salah satu dugaan adalah substansi P yang terdapat di serabut sensoris aferen akar dorsal ganglia dan tanduk dorsal medulla spinalis. Substansi P diduga berfungsi pada penyampaian stimulus nyeri ke pusat. Peptida lain yaitu somatostatin, polipeptida vasoaktif intestinal (VIP, Vasoactive Intestinal Polipeptide) dan kolesistokinin juga diduga berperan pada penyampaian impuls aferen dari organ otonom. Enfekalin di interneuron medulla spinalis dorsalis di area substansia gelatinosa berefek antinosiseptif yang ditimbulkan lewat aksi prasipnatik dan pascasipnatik, menghambat penglepasan substansi P (Mutschler, 1991).
Terdapat 5 perbedaan pokok antara saraf otonom dan saraf somatik yaitu
1. Saraf otonom menginervasi semua struktur dalam tubuh kecuali otot rangka;
2. Sinaps saraf otonom simpatis terletak dalam ganglia yang berada di medulla spinalis, yakni ganglio pravertebralis dan ganglia paravertebralis. Tetapi sinaps saraf otonom parasimpatis berakhir di ganglia parasimpatis, yang terdapat di luar organ yang dipersarafi, yakni ganglia siliaris, pterigopalatina, submandibula, otikus dan pelvis. Saraf somatik hanya mempunyai satu jenis neuron motorik, yang berasal dari otak atau medulla spinalis langsung menuju otot rangka tanpa melalui ganglia;
3. Saraf otonom membentuk pleksus yang terletak di luar susunan saraf pusat, saraf somatik tidak membentuk pleksus;
4. Saraf somatik diselubungi sarung mielin, saraf otonom pasca ganglion tidak bermielin;
5. Saraf otonom menginervasi sel efektor yang bersifat otonom, artinya sel efektor itu dapat berfungsi tanpa persarafan. Sebaliknya, jika saraf somatik putus maka otot rangka yang bersangkutan mengalami paralisis disusul atropi otot (Mutschler, 1991).

Fungsi Sistem Saraf Otonom
Sistem saraf otonom berfungsi untuk memelihara keseimbangan dalam organism (sistem dunia dalam). Sistem ini mengatur fungsi-fungsi yang tidak di bawah kesadaran dan kemauan, di antaranya:
• Sirkulasi, dengan cara menaikkan atau menurunkan aktivitas jantung dan khususnya melalui penyempitan atau pelebaran pembuluh-pembuluh darah.
• Pernapasan, dengan cara menaikkan atau menurunkan frekuensi pernapasan dan penyempitan atau pelebaran otot bronkhus.
• Peristaltik saluran cerna.
• Tonus semua otot polos lain (misalnya kandung empedu, ureter, kandung kemih, uterus).
• Sekresi kelenjar keringat, kelenjar air ludah, kelenjar lembung, kelenjar usus, dan kelenjar-kelenjar lain (Wawansumantri, 2009).

Obat otonom
Obat-obat otonom adalah obat yang dapat memengaruhi penerusan impuls dalam sistem saraf otonom dengan jalan mengganggu sintesa, penimbunan, pembebasan, atau penguraian neurotransmitter atau memengaruhi kerjanya atas reseptor khusus. Akibatnya adalah dipengaruhinya fungsi otot polos dan organ jantung dan kelenjar (Tjay & Rahardja, 2002).

Cara kerja obat otonom
Obat otonom mempengaruhi transmisi neurohumoral dengan cara menghambat atau mengintensifkannya. Terdapat beberapa kemungkinan tempat pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik maupun adrenergik, yaitu:
1. Hambatan pada sintesis atau penglepasan transmitter
a. Kolinergik
Hemikolinium menghambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan demikian mengurangi sintesis asetilkolin. Toksin botulinus menghambat penglepasan asetilkolin di semua saraf kolinergik. Toksin tersebut memblok secara irreversibel penglepasan asetilkolin dari gelembung saraf di ujung akson dan merupakan salah satu toksin paling poten yang dikenal. Toksin botulinum memproteolisis protein membrane; sintaksin dan SNAP-25 (synaptosome associated protein) yang berperan dalam fusi membran vesikel dengan membran prasinaps dalam eksositosis vesikel kolinergik. Toksin tetanus mempunyai mekanisme kerja yang serupa.
b. Adrenergik
Metiltirosin memblok sintesis norepinefrin dengan menghambat tirosin-hidroksilase, enzim yang mengkatalisis tahap penentu laju sintesis (rate limiting slope) norepinefrin. Sebaliknya, metildopa, penghambat dopa dekarboksilase, seperti dopa sendiri didekarboksilasi dan dihidroksilasi menjadi α-metil norepinefrin. Guanetidin dan bretilium juga mengganggu penyimpanan norepinefrin dengan akibat pengosongan norepinefrin di vesikel.
2. Menyebabkan penglepasan transmitter
a. Kolinergik
Racun laba-laba black widow yaitu latroroksin menyebabkan penglepasan asetilkolin (eksositosis) yang berlebihan, disusul dengan blockade.
b. Adrenergik
Banyak obat dapat meningkatkan penglepasan norepinefrin. Tergantung dari kecepatan dan lamanya penglepasan, efek yang terlihat dapat berlawanan. Tiramin, efedrin, amfetamin dan obat sejenis menyebabkan penglepasan norepinefrin yang relatif cepat dan singkat sehingga menghasilkan efek simpatomimetik . Sebaliknya reserpin, dengan memblok transport aktif norepinefrin dan transmitter lain misalnya 5-HT dan dopamin ke dalam vesikel menyebabkan pengosongan transmitter secara lambat dari vesikel. Norepinefrin di luar vesikel akan dipecah oleh MAO. Akibat pengosongan depot norepinefrin di ujung saraf, terjadi penurunan aktivitas yang bermanifestasi sebagai penurunan tekanan darah.
Bretilium dan guanetidin menghambat penglepasan neurotransmitter dari vesikel. Kokain dan antidepresi trisiklik menghambat ambilan kembali norepinefrin ke ujung saraf adrenergik.
3. Ikatan dengan reseptor
Obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek yang mirip dengan efek transmitter disebut agonis. Obat yang hanya menduduki reseptor tanpa menimbulkan efek langsung mengakibatkan berkurang atau hilangnya efek transmitter pada sel tersebut karena tergesernya transmitter dari reseptor disebut antagonis atau bloker.
4. Hambatan destruksi transmitter
a. Kolinergik
Antikolinesterase merupakan kelompok besar zat yang menghambat destruksi asetilkolin karena menghambat AChE, dengan akibat perangsangan berlebihan di reseptor muskarinik oleh asetilkolin dan terjadinya perangsangan disusul blockade di reseptor nikotinik.
b. Adrenergik
Ambilan kembali norepinefrin setelah penglepasannya di ujung saraf merupakan mekanisme utama penghentian transmisi adrenergik. Hambatan proses ini oleh kokain dan imipramin mendasari peningkatan respon terhadap perangsangan simpatis oleh obat tersebut. Penghambat COMT misalnya entakapon hanya sedikit meningkatkan respon katekolamin, sedangkan penghambat MAO misalnya tranisilpromin, pargilin, iproniazid, dan nialamid hanya meningkatkan efek tiramin tetapi tidak meningkatkan efek katekolamin. Sekarang telah dikembangkan MAO yang lebih selektif. Monoaminoksidase-A yang menghambat MAO pemecah norepinefrin dan 5-HT dan penghambat MAO-B yang mneghambat pemecahan dopamin (Mutschler, 1991).

Penggolongan Obat Otonom
Menurut efek utamanya maka obat otonom dapat dibagi dalam 5 golongan, yaitu:
1. Parasimpatomimetik atau kolinergik
Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis.
2. Simpatomimetik atau adrenergik
Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis.
3. Parasimpatolitik atau penghambat kolinergik
Golongan obat yang menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf parasimpatis
4. Simpatolitik atau penghambat adrenergik
Golongan obat yang menghambat timbulnya efek akibat aktivitas susunan saraf simpatis.
5. Obat ganglion
Golongan obat yang merangsang atau menghambat penerusan impuls di ganglion (Pearce, 2002).

DAFTAR PUSTAKA

Mutschler, E. 1991. Dinamika Obat. Edisi 5. ITB. Bandung.
Pearce, E. C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta
Tjay, T. H dan K. Rahardja. 2002. Obat-Obat Penting. Penerbit Gramedia. Jakarta
Wawansumantri. 2009. Sistem Syaraf Pada Manusia. Available online at http://www.scribd.com/doc/13342264/Sistem-Saraf-Pada-Manusia [diakses tanggal 26 Maret 2010].
Read more »

Sunday, November 20, 2011

LEPTOSPIROSIS

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri leptospira yang menyerang hewan dan manusia.Bakteri ini berbentuk spiral dan dapat hidup didalam air tawar selama lebih kurang satu bulan. Tetapi dalam air laut, air selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati.
Kewaspadaan harus lebih di musim hujan ini sebab genangan air merupakan media pertumbuhan dan penyebaran yang subur bagi penyakit leptospirosis.

Cara penularan
Manusia terinfeksi bakteri leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan penderita leptospirosis. Bakteri masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir(mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau makanan yang terkontaminasi oleh urin hewan terinfeksi leptospirosa. Masa inkubasi dari bakteri ini adalah selama 4 – 19 hari.
Leptospirosis dapat ditularkan kepada orang lain misalnya penularan lewat kelamin atau air susu ibu, meskipun jarang. Kuman Leptospira dapat ditularkan lewat air seni selama berbulan-bulan setelah terkena. Seseorang dapat tertular leptospirosis lebih dari satu kali karena terdapat banyak jenis kuman Leptospira yang berlainan. Hal ini memungkinkan seorang terkena jenis yang lain dan mendapat Leptospirosis lagi.
Bakteri ini hidup dan dalam tubuh hewan liar (tikus, tupai, landak, kelelawar ), hewan ternak/peliharaan (ayam, kambing, domba, kuda, babi, kucing, anjing) tapatnya di dalam ginjal hewan dan dikeluarkan melalui air seni . Hewan yang terjangkit penyakit ini pada umumnya tidak menunjukkan gejala, hanya berkurangnya nafsu makan.
Pada kasus-kasus awal mungkin dokter tidak menduga ada leptospirosis. Penyakit ini tidak lazim dan mungkin terlupakan, sebab belum tercatat ada jangkitannya di Jakarta. Itu sebab pada kasus-kasus awal bisa bisa jadi dokter luput mendiagnosis, sehingga pasien terlambat diberi antibiotika. Jika terlambat diobati, komplikasi leptospirosis merusak ginjal, selain hati dan otak.
Seorang dokter mungkin mencurigai Leptospirosis pada seorang yang bergejala, biasanya 1-2 minggu setelah terkena. Peneguhan penyakit ini biasanya dengan contoh darah yang akan menyatakan apakah terkena kuman ini. Untuk diagnosa pada umumnya diperlukan 2 kali contoh darah selang 2 minggu. Ada kalanya kuman bisa dibiakkan dari darah, cairan tulang punggung ke otak dan air seni.

Gejala klinis leptospirosis
Stadium pertama
• Demam tinggi, menggigil
• Sakit kepala
• Malaise (Lesu/Lemah)
• Muntah
• Konjungtivitis (radang mata)
• Rasa nyeri otot betis dan punggung
• Gejala gejala diatas akan tampak antara 4 – 9 hari
Stadium kedua
• Terbentuk antibodi di dalam tubuh penderita
• Gejala yang timbul lebih bervariasi dibandingkan dengan stadium pertama
• Apabila deman dan gejala gejala lain timbul, kemungkinan akan terjadi meningitis
• Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat
Gejala leptospirosis menjadi lebih berat jika tidak diobati atau obatnya salah alamat. Selain komplikasi ke hati menimbulkan gejala penyakit kuning, komplikasi ke selaput otak menimbulkan gejala nyeri kepala, kejang-kejang, leher kaku, dan penurunan kesadaran. Komplikasi ke ginjal umumnya bersifat fatal. Angka kefatalan penyakit leptospirosis mencapai 5 persen, artinya 5 dari setiap 100 kasus bisa tewas.

Komplikasi leptospirosis
• Pada hati : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6
• Pada Ginjal : Gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian.
• Pada Jantung : Berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang dapat menyebabkan kematian mendadak
• Pada paru paru : Batuk darah, nyeri dada, sesak napas
• Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernapasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata ( konjungtiva )
• Pada kehamilan : Keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati

Pencegahan
• Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus
• Mencuci tangan, dengan sabun sebelum makan
• Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/ sampah/ tanah/ selokan dan tempat tempat yang tercemar lainnya
• Melindungi pekerja yang beresiko tinggi terhadap Leptospirosis ( petugas kebersihan, petani, petugas pemotong hewan dan lain lain ) dengan menggunakan sepatu bot dan sarung tangan.
• Menjaga kebersihan lingkungan
• Menyediakan dan menutup rapat tempat sampah
• Membersihkan tempat tempat air dan kolam kolam renang.
• Menghindari adanya tikus didalam rumah atau gedung.
• Menghindari pencemaran oleh tikus.
• Melakukan desinfeksi terhadap tempat tempat tertentu yang tercemar oleh tikus.
• Meningkatkan penangkapan tikus .

Pengobatan
• Pengobatan dini sangat menolong karena bakteri Leptospira mudah mati dengan antibiotik yang banyak dipasaran, seperti : Penicillin dan turunannya (Amoxylline)
• Streptomycine, Tetracycline, Erytromycine, Doxycycline
• Segera berobat ke dokter terdekat

Usulan untuk Penanganan Masalah
Cara Pencegahan
• Kuman leptospira mampu bertahan hidup bulanan di air dan tanah, dan mati oleh desinfektans seperti lisol.
Maka upaya "lisolisasi" seluruh permukaan lantai , dinding, dan bagian rumah yang diperkirakan tercemar air kotor banjir yang mungkin sudah berkuman leptospira, dianggap cara mudah dan murah mencegah "mewabah"-nya leptospirosis.
Selain sanitasi sekitar rumah dan lingkungan, higiene perorangannya dilakukan dengan menjaga tangan selalu bersih. Selain terkena air kotor, tangan tercemar kuman dari hewan piaraan yang sudah terjangkit penyakit dari tikus atau hewan liar. Hindari berkontak dengan kencing hewan piaraan.
Biasakan memakai pelindung, seperti sarung tangan karet sewaktu berkontak dengan air kotor, pakaian pelindung kulit, beralas kaki, memakiai sepatu bot, terutama jika kulit ada luka, borok, atau eksim. Biasakan membasuh tangan sehabis menangani hewan, trenak, atau membersihkan gudang, dapur, dan tempat-tempat kotor.
Hewan piaraan yang terserang leptospirosis langsung diobati , dan yang masih sehat diberi vaksinasi. Vaksinasi leptospirosis tidak berlaku bagi manusia. Di AS sejak Desember 2000 lalu, ada anjuran bagi orang yang berisiko terjangkit leptospirosis diberikan seminggu antibiotika (dipilih golongan doxycycline) sebagai upaya pencegahan.
Tikus rumah perlu dibasmi sampai ke sarang-sarangnya. Begitu juga jika ada hewan pengerat lain. Jangan lupa bagi yang aktivitas hariannya di peternakan, atau yang bergiat di ranch. Kuda, babi, sapi, bisa terjangkit leptospirosis, selain tupai, dan hewan liar lainnya yang mungkin singgah ke peternakan dan pemukiman, atau ketika kita sedang berburu, berkemah, dan berolahraga di danau atau sungai.
Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien. Kencing hewan berpenyakit leptospirosis di air, makanan, dan tanah, yang menjadi ajang penularan penyakit hewan ini terhadap tubuh manusia.
Waspadai Leptospira di Gudang Makanan
• Kebersihan perorangan menentukan terjangkit tidaknya seseorang di tengah ancaman lingkungan rumah sehabis banjir.
Jika tangan tidak dibasuh sebelum memegang makanan, kuman dalam kencing tikus yang terbawa air banjir memasuki rumah bisa mencemari jemari tangan. Dengan cara begitu kuman leptospira memasuki tubuh manusia.
Bisa juga terjadi, makanan dan minuman sendiri sudah tercemar kencing tikus berpenyakit. Makanan minuman di gudang, di warung-warung, toko kelontong, supermarket, dan dapur berpeluang dikencingi tikus. Jika tikusnya berleptospira, kencing yang mencemari makanan minuman kita itu yang akan menularkan penyakitnya.
Jika tidak secara langsung tertelan atau terminum, kemungkinan kencing yang mencemari tutup minuman kaleng, misalnya. Kita terbiasa menenggak langsung setelah membuka tutup kaleng minuman tanpa membersihkannya lebih dulu. Berarti kencing yang berkuman leptospira di penutup kaleng itu langsung tertelan.
Kemungkinan lain dari gula pasir. Jika karung goni gula pasir juga dikencingi tikus berpenyakit, dan itu bisa terjadi semasih di gudang, ada bagian gula pasir yang tercemar kuman leptospira. Kalau gula pasir berkuman ini dikonsumsi mentah bisa berpotensi menimbulkan leptospirosis.
Read more »

Sunday, November 13, 2011

NUTRACEUTICAL CODEX OF GINSENG EFFERVESCENT TABLET

Tugas Analisis Kimia Bahan Makanan

1. RUANG LINGKUP
1.1 Standar ini dapat diaplikasikan terhadap produk ginseng yang disebutkan di bagian 2 dibawah ini dan dapat diterima untuk konsumsi langsung, termasuk untuk tujuan katering atau untuk repaking jika diperlukan. Tidak diaplikasikan terhadap produk ketika diindikasikan karena sedang dimaksudkan untuk proses yang lebih lanjut. Standar ini diaplikasikan terhadap produk-produk ginseng yang digunakan sebagai makanan atau bahan makanan dan tidak diaplikasikan terhadap produk-produk untuk obat.
1.2 Standar ini diaplikasikan hanya pada yuridiksi tersebut dimana produk-produk didefinisikan pada 2.1 yang diregulasikan sebagai makanan.

2. DESKRIPSI
Tablet Effervescent ginseng jawa merupakan tablet effervescent yang dibuat dengan zat aktif ginseng jawa (Talinum paniculatum).Ekstrak Ginseng jawa dibuat dengan metode infundasi menggunakan aqua sebagai pelarut. Bubuk ekstrak dibuat dengan metode pengeringan semprot cairan ekstrak yang diperoleh (Anshory, et al, 2009).
Tablet effervescent dibuat dengan aspartam sebagai pemanis. Tablet effervescent harus memenuhi kriteria keseragaman berat, kekerasan, kerapuhan, waktu kelarutan dan rasa yang telah ditentukan. Penyimpanan tablet effervescent harus dalam wadah yang tertutup rapat terlindung dari air dan udara luar (Anshory, et al, 2009).

3. KOMPOSISI DAN FAKTOR KUALITAS
3.1 BAHAN-BAHAN
Bahan wajib produk ginseng adalah akar ginseng segar yang cocok untuk dimakan, berasal dari Panax ginseng C.A. Meyer dan P. quinquefolius L., dibudidayakan untuk tujuan komersial dan digunakan sebagai makanan. Produk ginseng harus dikemas sedemikian rupa untuk menjaga higienis, gizi, teknologi dan kualitas organoleptik produk.
Kandungan Ginseng :
Kandungan kimia ginseng yang telah diketahui adalah saponin dan glikosida. Glikosida pada akar ginseng dikenal sebagai ginsenosida . Selain itu, akar ginseng juga mengandungi 16jenis ginsenosida seperti minyak asiri , panasena, resih, musilago, asam panax, fitosterol, hormon, vitamin B, kabohirat dan selulosa. Pada tahun 1960 an, sejenis sebatian yang dikenal sebagai “terpenidol glycisides” telah ditemui oleh peneliti-peneliti Moskow dan Tokyo (Arif, 2011).
3.2 FAKTOR KUALITAS
Produk ginseng akan memiliki rasa yang normal, warna, rasa dan ginsenosida unik untuk ginseng serta bebas dari hal-hal asing.
3.2.1 Ginseng Kering
(a) Kelembaban: tidak lebih dari 14.0% (Tipe serbuk: tidak lebih dari 9.0%)
(b) Abu: tidak lebih dari 6.0%
(c) Ekstrak jenuh air-butanol: tidak kurang dari 20 mg/g
(d) Ginsenosida RB1: untuk diidentifikasi
Selain itu, dalam kasus produk yang diproduksi dari P. ginseng CA Meyer, Rf ginsenosida harus dapat diidentifikasi.
3.2.2 Ekstrak Ginseng
3.2.2.1 Ekstrak Ginseng (larutan)
(a) Padat: tidak kurang dari 60,0%
(b) Padatan tidak larut air: tidak lebih dari 3,0%
(c) Ekstrak jenuh air-butanol : tidak kurang dari 70 mg/g
(d) Ginsenosida RB1: untuk diidentifikasi
Selain itu, dalam kasus produk yang diproduksi dari P. ginseng CA Meyer, Rf ginsenosida harus dapat diidentifikasi.
3.2.2.2 Ekstrak Ginseng (serbuk)
(a) Kelembaban: tidak lebih dari 8.0%
(b) Padatan tidak larut air: tidak lebih dari 3,0%
(c) Ekstrak jenuh air-butanol : tidak kurang dari 70 mg/g
(d) Ginsenosida RB1: untuk diidentifikasi
Selain itu, dalam kasus produk yang diproduksi dari P. ginseng CA Meyer, Rf ginsenosida harus dapat diidentifikasi.
3.3 BENTUK KERUSAKAN
Berikut kerusakan yang dapat terjadi pada ginseng kering.
(a) Ginseng yang rusak karena serangga: Ginseng yang tampak rusak oleh serangga atau berisi serangga mati.
(b) Ginseng berjamur: Ginseng yang tampak dipengaruhi oleh jamur.

4. KONTAMINAN
Produk yang dicakup oleh standar ini harus sesuai dengan tingkat maksimum Codex Standar Umum untuk Kontaminan dan Racun dalam Makanan (CODEX / STAN 193-1995).
Produk yang dicakup oleh standar ini harus sesuai dengan batas maksimum residu untuk pestisida yang ditetapkan oleh Codex Alimentarius Commission.

5. HIGIENITAS
5.1 Disarankan bahwa produk yang tercakup oleh ketentuan-ketentuan Standar ini disusun dan ditangani sesuai dengan bagian yang semestinya dari Kode Internasional yang Direkomendasikan dari Praktik - Prinsip Umum Higiene Pangan (CAC / RCP 1-1969), dan Codex teks lainnya yang relevan, seperti Kode Praktek Higienis dan Kode Praktek.
5.2 Produk harus sesuai dengan kriteria mikrobiologi yang ditetapkan sesuai dengan
Prinsip-Prinsip Pembentukan dan Kriteria Mikrobiologi Aplikasi untuk Makanan (CAC / GL 21-1997).

6. PENGEMASAN
Banyak kegagalan produk effervescent terjadi setiap tahun karena bahan kemasan yang tidak memadai. Banyak sekali pilihan bahan kemasan ini dibuat berdasarkan harga, bukan mempertimbangkan masalah stabilitas. Jenis yang paling umum dari kemasan adalah foil packets dan tabung. Lubang kecil adalah masalah umum dalam paket foil. Jika mengganti dengan heavier-gauge foil (biasanya lebih mahal), akan sangat mengurangi jumlah lubang jarum. Daerah dalam foil packets harus cukup besar untuk memegang tablet tanpa menciptakan tekanan pada foil. Namun, hal itu harus diusahakan sekecil mungkin untuk meminimalkan jumlah "rongga udara" yang terperangkap di dalam (Lee, 2010).
Tabung terbuat dari plastik, kaca, atau aluminium ekstrusi dengan cap yang mengandung desiccants. Desiccants digunakan untuk mengikat setiap kelembaban bebas dalam tablet atau di udara untuk mencegah berreaksi dengan effervescent. Pastikan untuk melakukan studi stabilitas baik pada tabung dan setiap kemasan lain (Lee, 2010).
Brosur Dan Kemasan
Tablet effervescent harus disimpan dalam wadah tertutup rapat atau kemasan tahan lembab, sedangkan pada etiket tertera tidak langsung ditelan (Andayana, 2009)
Pada setiap brosur atau kemasan obat selalu dicantumkan (Depkes RI, 2006):
• Nama obat
• Komposisi
• Indikasi
• Informasi cara kerja obat
• Aturan pakai
• Peringatan (khusus untuk obat bebas terbatas)
• Perhatian
• Nama produsen
• Nomor batch/lot .
Pelabelan
Menurut CODEX STAN 1-1985, umumnya produk-produk makanan maupun nutrasitikal pada pelabelannya mencakup:
1. Nama Produk
Nama produk dari produk yang akan diproduksi.
2. Daftar Bahan-bahan yang Digunakan
Mencakup berbagai senyawa yang digunakan termasuk bahan tambahan yang digunakan dalam produksi maupun preparasi.
3. Netto dan Berat Kering
Netto dan berat kering produk juga harus dicantumkan.
4. Nama dan Alamat
Nama dan alamat produsen, distributor, importer, eksporter, atau vendor juga harus dicantumkan.
5. Negara Asal
Negara asal dari makanan atau produk tersebut
6. Lot/ Batch
Kode atau batch dari setiap produk yang diproduksi
7. Tanggal (pembuatan dan kadaluarsa) dan Instruksi Penyimpanan
Memberi informasi waktu produk tersebut masi dapat digunakan dan memeberi informasi mengenai penyimpanan agar produk tersebut dapat tahan lama.
8. Instruksi Penggunaan
Informasi mengenai penggunaan produk agar produk dapat bermanfaat bagi pengguna.
Untuk produk ginseng, dalam CODEX STAN 295R-2009 REGIONAL STANDARD FOR GINSENG PRODUCTS, pelabelannya dapat mencantumkan :
1. Nama produk
Nama produk ini disesuaikan dengan tipe dari produk ginseng.
2. Species ginseng yang digunakan
Semua produk ginseng harus dilabeli dengan nama spesies ginseng yang digunakan untuk bahan material dan biasanya dilengkapi dengan asal Negara species ginseng tersebut.
3. Negara asal
Pada labeling pun harus dicantumkan Negara asal pembuatan produk.

7. METODE ANALISIS
7.1 Preparasi Akar Ginseng Jawa
Bagian akar ginseng jawa yang telah dikeringkan, dihaluskan dengan blender kemudian disari menggunakan cara infundasi. Ekstrak cair yang diperoleh dikeringkan menggunakan alat Spry Drying sehingga dihasilkan serbuk ekstrak kering.
7.2 Pembuatan Tablet effervescent ekstrak ginseng jawa
Formulasi tablet effervescent ekstrak ginseng jawa dibuat sesuai dengan formula yang ditunjukkan pada tabel 1. Serbuk kering ekstrak ginseng jawa dicampur dengan manitol kemudian berturut-turut ditambahkan asam sitrat, asam tartrat dan natrium bikarbonat. Campuran diaduk sampai homogen kemudian dikeringkan dalam oven pada suhu 70ºC selama 45 menit. Campuran diayak dengan ukuran mesh 40, selanjutnya di tambahkan PEG 4000 dan pemanis aspartam, campuran diaduk sampai homogen dan dicetak menggunakan mesin cetak tablet single punch (Korch type EK O) (Anshory, et al, 2006).
7.3 Kandungan ginseng yang berkhasiat
Ginsenosida dengan kandungan :
Saponin, glikosida, minyak atsiri, panasena, resin, musilago, asam panax, fitosterol, hormon, vitamin B, karbohidrat, selulosa, dan triterpen (Manuputy, 2008).
7.4 Metode analisis Ginsenosida
Digunakan metode analisis denga Kromatografi Cair Kinerja Tinggi. Fasa diam dari bahan Oktadesil disiapkan dan digunakan untuk menyiapkan kolom KCKT. Fasa gerak yang digunakan adalah campuran Asetonitril : Air (27,5 : 72,5) dengan laju alir 1ml/menit. Detektor yang digunakan adalah spektrofotometer UV pada panjang gelombang 203 nm (Kanazawa, 1987).

8. SAMPLING
Metode Pengambilan Sampel (Sampling) pada Metode Analisis Tablet Effervescent Ginseng
• Kandungan Zat Tak Larut Air
Sebanyak 1 gram sampel serbuk/granul ginseng ditempatkan dalam tabung sentrifugasi ukuran 25 ml dengan berat yang konstan. Kemudian di sentrifugasi selama 15 menit pada kecepatan 3000 rpm. Diambil supernatan produk
• Kandungan 1-butanol jenuh
1. Campurkan 1-butanol dengan air dengan perbandingan 70 : 30, tempatkan pada corong pisah dan kocok. Diamkan sampai terbentuk 2 lapisan. Kemudian lapisan air dibuang, lapisan 1-butanol diambil. (larutan a)
2. Untuk sampel serbuk (atau granul effervescent), tempatkan 1-2 gram pada labu erlenmeyer, kemudian tambahkan 60 ml air dan pindahkan pada corong pisah. Tambahkan 60 ml dietil eter, kemudian kocok dan diamkan sampai terdapat 2 lapisan. Ambil lapisan bawah dan ekstraksi dengan larutan a. Ambil lapisan atas (lapisan 1-butanol) kemudian dievaporasi.
• Metode Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT)
50 mg serbuk ginseng atau granul effervescent ginseng dilarutkan dalam 2 ml methanol 30 % dalam air, kemudian dicampurkan dengan metode vortex selama 10 detik, dipanaskan pada suhu 50 derajat Celsius selama 30 menit, kemudian dicampurkan kembali dengan metode vortex selama 10 detik. Kemudian dilakukan proses sentrifugasi selama 15 menit. Hasil sentrifugasi kemudian dianalisis dengan metode KCKT dengan kolom C18.
• Metode Kromatografi Gas-Spektrofotometri Massa
Sampel produk (tablet effervescent) diserbuk terlebih dahulu, atau dalam bentuk granul, kemudian disaponifikasi dan diderivatisasi dengan menggunakan boron triflorida dalam metanol. Kemudian dianalisis dengan menggunakan Metode Kromatografi gas-Spektrofotometri Massa dengan menggunakan kolom polar Carbowax.

Untuk lebih lengkapnya silakan download disini
Read more »

 
Powered by Blogger