Friday, June 10, 2011

Depresi dan Antidepresi

Depresi termasuk salah satu di antara gangguan-gangguan suasana hati (mood). Gangguan-gangguan suasana hati adalah gangguan-gangguan yang bergerak dari depresi yang dalam sampai kepada mania yang ganas. Gangguan-gangguan suasana hati ini kadang-kadang disebut gangguan-gangguan afektif. Istilah “afek” berarti suatu respons emosional subjektif (Semiun, 2006).
Gangguan-gangguan suasana hati dibagi dalam dua kelompok besar, yakni gangguan-gangguan depresif atau gangguan-gangguan unipolar (unipolar disorders) di mana depresi menjadi simtom utama. Gangguan-gangguan unipolar ini dibagi lagi menjadi episode depresif tunggal (single depressive episodes) dan episode-episode depresif yang berulang-ulang (recurrent depressive episodes). Kelompok yang kedua adalah gangguan-gangguan bipolar (bipolar disorders). Dalam gangguan-gangguan bipolar, depresi juga merupakan simtom yang dominan tetapi kemudian simtom itu berubah menjadi mania. Istilah bipolar digunakan karena individu memperlihatkan dua kutub suasana hati yang ekstrem. Individu yang didiagnosis sebagai bipolar disebut mengalami gangguan manikdepresif. Gangguan bipolar dibagi menjadi tiga tipe, yakni tipe manik, tipe depresif, dan tipe campuran. Individu yang didiagnosis sebagai manik apabila suasana hatinya yang dominan adalah mania, dan dikatakan depresif kalau suasana hatinya yang dominan adalah depresi, dan dikatakan campuran bila gambaran simtomnya adalah mania dan depresif tercampur atau berubah-ubah dalam setiap jangka waktu beberapa hari (Semiun, 2006).
Pada tingkat kedua gangguan-gangguan suasana hati, kita menemukan pola-pola simtom yang akan berlangsung sekurang-kurangnya selama dua tahun (Semiun, 2006).
Belakangan para ahli teori psikodinamik mengemukakan bahwa bukan kehilangan, melainkan stres yang menyebabkan depresi; dan stres adalah bagian dari kehilangan dan dilihat sebagai prediktor yang lebih baik untuk depresi daripada kehilangan. Banyak bukti menunjukkan bahwa stres akut dan kronis menyebabkan depresi, tetapi pendekatan psikodinamik tidak memberikan bukti mengenai proses bagaimana stres tersebut bisa menyebabkan depresi (Semiun, 2006).
Kelihatan juga bahwa stres menyebabkan depresi tetapi tidak semua orang yang berhadapan dengan stres akan mengalami depresi. Oleh karena itu, juga harus dicari faktor lain yang penting dalam hubungan stres dan depresi. Salah satu faktor lain dalam hubungan itu adalah dukungan sosial (sicial support) yang tersedia bagi individu bila berhadapan dengan stres. Ada bukti bahwa individu yang memiliki teman-teman yang akrab kurang mengalami depresi bila mereka berhadapan dengan stres. Akan tetapi, perlu diperhatikan juga bahwa tidak hanya banyaknya teman yang dimiliki individu yang akan mempengaruhi kemungkinan depresi, tetapi yang terpenting adalah kualitas dari hubungan tersebut (Semiun, 2006).
Kita mengetahui bahwa individu-individu yang memperoleh dukungan sosial kecil kemungkinan akan mengalami depresi, tetapi kita tidak mengetahui bagaimana proses dukunan sosial itu melindungi seseorang dari kemungkinan depresi. Salah satu kemungkinan adalah peristiwa-peristiwa yang menimbulkan stres kurang dialami sebagai stres apabila kesulitan (beban) dapat dibicarakan bersama dengan orang lain. Dengan demikian, tidak hanya dukungan sosial dapat menyebabkan depresi dan juga memperpanjang depresi. Selain dukungan sosial, ada juga faktor lain yang bisa mengurangi hubungan stres dan depresi, yakni strategi-strategi penanggulangan yang digunakan individu bila berhadapan denga stres. Pada umumnya orang-orang yang mengalami depresi mungkin menggunakan strategi-strategi pasif, seperti menghindar, menerima, impian khayalan, makan, merokok, atau mungkin juga mereka meminta nasihat atau dukungan emosional. Orang-orang yang tidak mengalami depresi mungkin menggunakan strategi-strategi aktif yang difokuskan pada pemecahan dan pengatasan masalah (Semiun, 2006).
Rupanya stres ditambah dengan strategi-strategi penanggulangan yang pasif akan menyebabkan depresi, tetapi sampai sekarang belum ada penelitian untuk menetapkan cara-cara defensif manakah yang digunakan individu sebelum mengalami depresi. Dengan demikian, strategi-strategi yang digunakan individu secara pasif untuk menanggulangi depresi mungkin merupakan akibat atau bukan penyebab dari depresi. Hal yang jelas adalah bahwa strategi-strategi penanggulangan yang sangat penting dalam depresi, tetapi hanya faktor-faktor genetik saja tidak dapat menjelaskan semua depresi (Semiun, 2006).
Kalsifikasi Antidepresi (AD)
Kasifikasi klasik
1. AD trisiklik
2. AD tetrasiklik
3. Penghambat ambilan kembali 5-HT
4. Penghambat MAO
5. Profilaktik fase
Klasifikasi berdasarkan titik tangkap primer di SSP
1. Penghambat ambilan kembali terutama 5-HT atau penghambat ambilan kembali 5-HT selektif (SSRI)
2. Penghambat ambilan kembali terutana NA atau selektif
3. Penghambat ambilan kembali 5-HT dan NA kombinasi
4. Penghambat MAO
5. Mekanisme kerja yang lain (Schmitz, et. al., 2008).
Antidepresi trisiklik
Imipramin (derivat dibenzazepin) dan amitriptilin (derivat dibenzodikloheptadin) digunakan sebagai pengganti penghambat MAO, untuk mengurangi depresi ensogen. Perbaikan dalam bentuk mood (perasaan, bertambahnya aktivitas fisik, kewaspadaan mental, perbaikan nafsu makan, pola tidur lebih baik, dan berkurangnya pikiran bunuh diri. Tidak menimbulkan euforia pada orang normal (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Obat trisiklik bekerja menghambat reuptake neurotransmiter di otak. Berbagai antidepresi trisiklik berbeda dalam potensi dan selektivitas hambatan reuptake neurotransmiter, yaitu norepinefrin, serotonin, atau dopamin (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Obat trisiklik yang mempunyai dua gugus metil dinamakan amin tersier (imipramin, amitriptilin, doksepin), sedangkan yang memiliki satu gugus metil dinamakan amin sekunder (desipramin, nortriptilin, protriptilin). Amin sekunder menghambat reuptake norepinefrin dan amin tersier menghambat reuptake serotonin (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Farmakodinamik terhadap kejiwaan ialah elevasi mood. Mekanisme tidak jelas. Bersifat antimuskarinik pada sistem syaraf otonom sehingga penglihatan kabur, mulut kering, obstipasi, dan retensi urine. Sering menimbulkan hipotensi ortostatik, bahkan infark jantung dan presipitasi gagal jantung (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Efek samping dibenzazepin mirip efek samping atropin. Waspada untuk penderita glaukoma atau hipertrofi prostat. Dapat menimbulkan lemah dan lelah, seperti efek fenotiazin. Pada usia lanjut dapat menimbulkan pusing, hipotensi postural, sembelit, sukar kencing, edema, dan tremor. Imipramin serupa dengan fenotiazin menimbulkan ikterus kolestatik, agranulositosis. Toksik akut ditandai hiperpireksia, hipertensi, konvulsi, dan koma (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Untuk menghadapi depresi ringan diberikan psikoterapi. Jika lebih hebat dan terdapat bahaya bunuh diri, terapi cepat denga ECT, atau psikofarmaka antidepresi trisiklik. Untuk depresi yang menyertai penyakit somatik kronik dan psikoneurosis digunakan klordiazepoksid dan psikoterapi (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Dikenal pula generasi kedua, yaitu amoksapin dan trazodon. Obat ini hanya menghambat serotonin. Tidak berfungsi untuk dopamin reuptake (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Psikotogenik
Dapat menimbulkan kelainan tingkah laku, disertai halusinasi, ilusi, gangguan berpikir, dan perubahan perasaan. Dahulu disebut psikotomimetik, menimbulkan keadaan mirip psikosis (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Meskalin adalah alkaloid yang berasal dari tumbuhan kaktus di Amerika Utara dan Meksiko. Menyerupai rumus epinefrin. Digunakan orang Indian untuk trance ritus keagamaan. Pada orang normal menimbulkan rasa takut, halusinasi visual, tremor, hiperrefleksia, dan peningkatan aktivitas simpatik. Digunakan dalam penelitian penyelidikan keadaan yang menyerupai psikosis. Tidak untuk terapi atau diagnostik (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).
Dietilamid asam lisergat (LSD) menyerupai rumus ergonovin. Pada orang normal menimbulkan gejala mirip efek pemberian meskalin, euforia atau disforia, depersonalisasi, perasaan curiga, dan sifat agresif. Digunakan dalam penelitian untuk menimbulkan keadaan psikosis (Staf Pengajar Departemen Farmakologi, 2008).


DAFTAR PUSTAKA

Schmitz, G., H, Lepper., dan M, Heidrich. 2008. Farmakologi dan Toksikologi. Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta, hal. 195.
Staf Pengajar Departemen Farmakologi Fakultas Kedokterann Universitas Sriwijaya. 2008. Kumpulan Kuliah Farmakologi. Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta, hal. 498.
Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 2. Penerbit Kanisius. Yogyakarta, hal. 404 dan 419-420.

0 comments:

Post a Comment

 
Powered by Blogger